Minggu, 17 Juli 2011

Membuat Taman Di Lahan Sempit : Vertical Garden


Vertical Garden atau kebun vertikal seperti menyalahi kodrat dimana tanaman umumnya tumbuh secara horisontal. Namun, solusi ini menjadi jawaban penghijauan di lahan-lahan terbatas akibat pertumbuhan kota.

Jauh sebelum dikenal di Indonesia, masyarakat dari negara-negara yang memiliki lahan terbatas sudah memanfaatkan solusi ini, contohnya di Jepang. Pemerintah Singapura menunjukkan dukungan dengan memberikan insentif kepada masyarakat atau bangunan yang menggunakan vertical garden. Di negara-negara yang lahannya mahal, vertical garden bukan lagi pilihan tapi sebuah keharusan.

Vertical Garden mulai dikenalkan pada tahun 1994 oleh ahli botani Perancis bernama Patrick Blanc. Blanc berpendapat tak semua tumbuhan membutuhkan tanah dalam keadaan tertentu. Dengan pengaturan dan perancangan khusus, tanaman menjelma indah menjadi kebun di seluruh bangunan.

Menurut Asroel Alamsjah dari Tropica Greeneries, masyarakat di Indonesia dapat menggunakan solusi ini untuk menghadirkan nuansa segar dan hijau di rumah. Juga membantu menghasilkan udara segar di antara pekatnya polusi kota. "Untuk vertical garden, Indonesia beruntung karena memiliki banyak tanaman tropis," katanya.

Diakui oleh Asroel untuk membuat vertical garden masih terganjal tingginya biaya. Biaya yang tinggi dikarenakan teknik pemasangan juga media tanam yang masih impor. Kisaran harganya, kata Asroel Rp 1 juta - Rp 4 juta per meter persegi, itu termasuk sistem penggantungan di dinding.

Mewujudkan vertical garden seperti tertera pada gambar pastinya membutuhkan biaya sangat tinggi. Namun, tetap ada beberapa teknik penghijauan di dinding yang disebut Vertical Greenery. Tekniknya antara lain, Green Fasade, Sling system , Wire Mess System, Rack System , Pipe System, Kawat Loket, dan Geo Bag System.

Biaya mungkin mahal, namun melihat keuntungan vertical garden sebagai investasi hijau untuk masa depan, mengapa takut mencoba?

Dari : kompas.com

Cara Membuat Vertical Garden


Membangun vertical garden bukan sekadar mimpi, apalagi sekarang alternatif media tanamnya semakin banyak. Tinggal disesuaikan saja dengan budget.

Apa yang Anda bayangkan dalam pembuatan vertical garden ? Kesulitan konstruksi dan sistem penyiramannya? Lantas, bagaimana cara menanamnya dan media tanam yang harus digunakan?

Mungkin saja, akhirnya Anda putus asa sebelum mencoba. Padahal dengan berbagai cara yang sederhana, vertical garden yang indah, asri dan awet bisa dibuat, lho. Ikuti saja trik berikut.

Mirip dengan Hidroponik

Pada prinsipnya sistem penanaman pada vertical garden tidak berbeda dengan penanaman pada umumnya. Asalkan semua kebutuhan tanaman terpenuhi, maka tanaman akan tumbuh secara optimal.

Mungkin kita pernah terheran-heran dengan sistem penanaman hidroponik, di mana tanaman bisa tumbuh dengan sangat subur tanpa menggunakan media tanah sama sekali.

Rahasianya, unsur hara tanaman (pupuk) disuplai dengan melalui penyiraman tanaman. Akar tanaman menancap pada berbagai jenis media tanam yang digunakan. Di mana media tersebut hanya berfungsi sebagai alat untuk berpegangan akar tanaman sehingga bisa menopang tubuh tanaman.

Sebenarnya sistem penanaman pada vertical garden pun identik dengan sistem hidroponik. Semua kebutuhan nutrisi tanaman disuplai melalui penyiraman tanaman. Berbagai bahan bisa digunakan sebagai media untuk tempat akar mencengkeram dan menopang tubuh tanaman.

Alternatif Media Tanam

Media tanam berikut bisa kita gunakan untuk vertical garden :

Tali Ijuk

Kita sering melihat tanaman anggrek atau bromelia ditanam di batang pohon dengan menempelkannya pada tali ijuk yang dililit-lilit pada batang pohon.

Sebenarnya selain kedua jenis tanaman tersebut, masih ada beberapa jenis tanaman yang bisa ditanam menggunakan media tali ijuk. Kita bisa menggunakan pipa paralon berdiameter 3 inci atau lebih yang dililit dengan tali ijuk membentuk taman vertikal.

Jenis-jenis tanaman yang bisa digunakan diantaranya kadaka, aneka jenis pakis, begonia, dan berbagai jenis philodendron. Walaupun fungsinya bisa digantikan oleh batang/akar pakis, namun ini tidak dianjurkan, karena penggunaannya lama-kelamaan akan merusak vegetasi pakis di alam. Harganya pun terjangkau, Rp 5000/ikatnya.

Rockwoll

Rockwoll adalah bahan berbentuk lembaran dengan ketebalan sekitar 7 cm. Bahan ini biasa digunakan untuk media hidro­ponik atau pelapis dinding untuk pe­redam suara.

Media tanam ini bersifat sangat menyerap air, sehingga akar tanaman akan sangat mudah tumbuh dan dan menyerap air dari media tersebut. Namun media ini juga menjadi sangat berat ketika sudah menyerap air. Oleh karena itu untuk penggunaan pada bidang vertikal yang cukup luas diperlukan konstruksi yang sangat kuat. Harganya di pasaran adalah Rp 75 ribu/m2.

VGM (Vertical Garden Module)

Bentuknya seperti keranjang plastik tempat menampung media tanam. Modul ini sangat praktis dan awet untuk digunakan dalam jangka waktu yang lama (10 tahun).

Ukuran kotak ini 50 cm x 55 cm dengan ketebalan 12,5-25 cm. Karena berbentuk modul maka kita mudah mencopot dan menggantinya dengan tanaman lain jika sudah bosan.

Modul ini sangat berat sehingga kurang praktis digunakan pada taman vertikal yang tinggi. Bentuknya yang kotak juga membuat taman vertikal berkesan kaku. Dan, VGM harganya cukup mahal, sekitar Rp 1 juta/m2, sehingga kita harus merogoh kocek lebih dalam bila ingin menggunakannya.

Karpet & Textile

Penggunaan textile atau geotextile untuk media vertical garden sudah banyak diterapkan. Ya, ini merupakan alternatif media tanam taman vertikal yang cukup baik, dan bahkan bisa menggunakan bahan karpet mobil. Plus, bahan ini cukup kuat dan awet digunakan. Harganya, Rp 40 ribu/m2.

Untuk menggunakannya, Anda tinggal mengelar karpet 2 rangkap pada dinding (konstruksi besi tahan karat). Pada lapisan luar karpet tersebut, disobek selebar 10 cm, dengan jarak 15-20 cm (jarak tanam tanaman), sehingga menyerupai kantong/ saku baju.

Selanjutnya tanaman dikurangi media tanamnya dan ditanam di kantong-kantong tersebut. Namun media ini harus disiram dengan periodik (3-5 kali dalam sehari), sehingga disarankan menggunakan timer otomatis, sehingga kita tidak repot merawatnya. Di luar negeri, taman vertikal yang sudah eksis selama belasan tahun juga menggunakan media textile sintetik yang tidak lapuk/terdegradasi.

Nah, dari sekian banyak pilihan media tanam ini, Anda tinggal memilih mana yang paling cocok dengan budget . Selamat membuat vertical garden .

Naskah: Ir. Hari Harjanto, WongTani Nursery, Jln. Cepit Raya, Kampung Sawah, Depok, Jawa Barat (021-7088 2939, 9313 6354, 0815 1019 7634), Studio Landscape, Taman Sinawang, Jln Raya Sawangan-Depok, Perum Grand Depok City (GDC), Cluster Jasmine Blok A1 No. 11, Depok, (021-7088 2939), email : wongtaninursery@yahoo.com, www.wongtanilandscape.com, Foto: Dok. Wongtani

dari : tabloidnova.com

Penanaman Vertical Garden


VERTICAL GARDEN (VEGA)

Vega adalah konsep taman tegak, yaitu tanaman dan elemen taman lainnya yang diatur sedemikian rupa dalam sebuah bidang tegak

Ruang hijau sangat diperlukan untuk keseimbangan kehidupan manusia. Ironisnya, di kota-kota besar, lahan terbuka hijau makin sempit. Perumahan-perumahan di kota besar juga menyisakan lahan terbuka hijau yang sangat terbatas. Terbatasnya lahan yang dapat digunakan untuk menanam tanaman, menjadi kendala serius dan harus dicari jalan agar rumah hunian tetap dapat memiliki taman yang cukup. Ruang hijau tidak hanya dibutuhkan untuk resapan air serta keindahan semata. Tanaman juga memiliki fungsi untuk memperbaiki struktur udara di perkotaan. Tanaman hidup dapat mengurangi dampak polusi udara dan sebagai sumber oksigen bagi kehidupan manusia.

Salah satu cara menanam tanaman dalam jumlah yang cukup, walaupun ruang yang ada sangat terbatas, adalah dengan konsep taman vertikal atau vertical garden (Vega). Vega adalah konsep taman tegak, yaitu tanaman dan elemen taman lainnya yang diatur sedemikian rupa dalam sebuah bidang tegak. Dengan konsep ini, ruang tanam/space bisa jauh lebih besar dibanding dengan taman konvensional, bahkan jumlah tanaman yang dapat ditanam bisa beberapa kali lipat, sehingga dapat menambah ruang hijau secara sangat signifikan. Vega dapat diaplikasikan di berbagai bangunan (out door maupun indoor), pagar, carport, serta dinding-dinding pembatas lainnya, sehingga terlihat lebih indah dan tidak monoton berupa dinding yang keras, tapi lebih terkesan alami, bahkan dapat menyerupai lukisan yang sangat artistik.

Dari : godongijo.com

Vertical Garden


VERTICAL GARDEN

Nature is fantastic…….!!!

Kemampuan tumbuh dan hidup pada tanaman sungguh menginspirasi seorang Patrick Blanc untuk menciptakan kreasi yang kreatif dengan berusaha menemukan sebuah system pertumbuhan dan menata taman pada dinding yang vertikal, selama ini kita mengenal taman yang tumbuh pada bidang yang datar seperti Taman Rumah,Taman Kota dan Roof Garden dan juga tanaman yang merambat pada dinding atau biasa terlihat pada sebuah pergola.

Taman Vertikal atau Vertical Garden dan kadang disebut Vertical Landscape merupakan hasil kreasi inovatif untuk menumbuhkan tanaman tanpa menggunakan tanah sebagai media pertumbuhan, dengan keberhasilan menemukan sistem pertumbuhan tersebut menyebabkan berkurangnya beban yang harus ditopang pada sebuah dinding sehingga memudahkan dalam penataan disain taman vertikal dalam skala dinding yang luas serta jalan keluar bagi pembuatan taman pada lokasi yang terbatas ketersedian lahannya.

Sebenarnya Taman vertical bukanlah hal yang baru jika kita sering berjalan-jalan dan memasuki suatu wilayah yang alami di Indonesia,banyak terlihat ekpose Taman vertikal pada ngarai-ngarai atau pada dinding alam sebuah pengunungan.

Dari segi lingkungan taman vertikal ini merupakan sistim yang hidup untuk mengurangi kadar polusi pada sebuah ruangan atau sebuah wilayah dan dengan adanya keberadaan taman vertical pada satu area dapat menciptakan iklim mikro yang lebih menyejukan

Tentu saja keindahan sebuah taman vertical kembali tergantung kepada imajinasi dan kreativitas para arsitek lansekap, pengetahuan tentang jenis tanaman dan pertumbuhannya sangat dibutuhkan dalam mendisain sebuah dinding yang kosong. Dan kreasi taman vertical ini dapat dilakukan pada ruang luar (exterior) maupun ruang dalam (interior).

Patrick Blanc mengubah lapisan permukaan vertikal bangunan menjadi sebuah tampilan hijau yang cantik. Apa yang telah dia buat, sangat jauh dari konsep hortikultura secara umum. Karya vertical gardennya ini bisa dibilang sebuah eco-art atau nilai seni dari sebuah ekologi dengan mengkombinasikan beberapa jenis tanaman yang dapat tumbuh dengan baik pada media vertikal baik ternaungi maupun terbuka.

vertikal garden merupakan penjabaran modern dari taman gantung di babylonia, yang merupakan taman sejarah dalam dunia arsitektur lansekap. Akan tetapi bagi Patrick, bukanlah sebuah pekerjaan yang mudah untuk bisa meletakkan beragam jenis tanaman pada media vertikal dengan kondisi yang terkadang bisa menjadi ekstrem.

Pada dasarnya, vertikal garden terdiri dari tiga elemen penting sebagai pembentuknya. Metal Frame sebagai kerangka penyangganya yang di tempelkan ke dinding atau terkadang juga berdiri sendiri. elemen yang kedua adalah lapisan PVC yang berfungsi menjaga agar tanaman atau akar tanaman tidak menembus kedalam dinding. Lapisan ketiga adalah felt sejenis bahan organik dari bahan hewan ternak sebagai media tanam. akar tanaman akan dapat tumbuh dengan baik pada media felt tersebut.

Sistem Penyiraman

Sistem penyiraman dilakukan dari atas ke bawah melalui beberapa tap atau sparyer pada titik-titik yang telah ditentukan. sistem penyiraman dilakukan secara otomatis. Bahan untuk penyiraman terdiri atas air dan pupuk yang dilarutkan pada air yang digunakan. Berat basah Vertical garden ini tidak lebih dari 30 kg per meter perseginya, sehingga sangat memungkinkan untuk diaplikasikan pada berbagai media vertikal tanpa batasan ketinggian.

Penggunaan Media Tanah

Pada dasarnya, tanaman tidak membutuhkan tanah untuk proses hidupnya. Tanah hanyalah merupakan media mekanis untuk mengangkut material mineral dari akar sampai ke daun melalui proses kapilaritas, serta media untuk pijakan tempat tumbuh tanaman tersebut. Tanaman dapat tumbuh dengan baik, dan melaksanakan proses fotosintesis dengan air, bahan mineral yang dibutuhkan, karbondioksida, sinar matahari dan nutrisi lain yang penting.

Dari : godongijo.com

Sabtu, 04 September 2010

Anthurium Corong



Harga Rp 50.000,- belum termasuk ongkos kirim

Sabtu, 28 Agustus 2010

Adenium Tumpuk


Adenium Tumpuk Tetap Ditunggu

Setelah menikmati booming dalam tahun-tahun terakhir, kini para pedagang tanaman hias mengalami masa sulit. Bisnis mereka tengah terpuruk. Hanya beberapa jenis tanaman hias saja yang masih bisa bertahan.

Adenium, salah satu yang bertahan. Tanaman berjulukan mawar gurun ini tetap ditunggu para pecinta dan kolektor tanaman hias karena warna dan keanekaragaman bentuk bunganya. Harganya relatif stabil. Kalau naik pun, tidak fantastis tanaman hias lain. Pebisnis tentu masih ingat dengan anthurium yang dua tahun lalu harganya naik gila-gilaan, tetapi setahun terakhir nyaris tidak laku.

Memang, adenium, menurut Ir. Slamet Budiarto dari Godong Ijo Nursery di Parung, Bogor, mempunyai kelebihan dibandingkan tanaman lainnya, “Mulai dari bonggol, batang hingga daunnya bisa dinikmati pecintanya.” Sementara itu, Furqon dari Fatih Nursery juga di Poltangan, Jakarta Selatan ini. mengamati, di beberapa pameran tanaman hias dan kontes adenium banyak diminati hobiis pemula maupun yang sudah kawakan. Rata-rata hobiis baru membeli adenium untuk dibawa pulang. “Pasar adenium ini akan bergairah lagi dengan adanya bunga jenis baru tumpuk dua dan tumpuk tiga,” ungkap Ipunk, sapaan akrabnya.

Didominasi Bunga Tumpuk

Slamet berpendapat, adenium mempunyai penggemar tersendiri. Ini terlihat dari ketertarikan mereka pada keindahan bunga, bonggol, dan batangnya yang bisa dibuat suatu karya seni nan indah. “Selain itu perawatan adenium sangat mudah sehingga bisa menjadi tanaman yang memiliki tren jangka panjang,” tambahnya.

Tahun ini, menurut Ipunk, pasar adenium akan diramaikan oleh jenis bunga tumpuk dengan berbagai corak. Ia memprediksi, sekitar dua bulan mendatang, adenium jenis ini akan mengalami perkembangan permintaan yang cukup signifikan. “Bunga tumpuk akan terus dicari hobiis setelah mereka bosan dengan tanaman adenium dengan bunga satu petal. Bahkan bunga yang ditampilkan nanti layaknya bunga mawar,” jelas pemilik kebun di Poltangan, Jakarta Selatan ini.

Ipunk menambahkan, “Pertama kali jenis amazing triple keluar dibandrol dengan harga Rp300 juta per 10 batang. Inilah yang membuat tidak semua orang bisa memilikinya, tapi setelah kami bisa mengembangkannya, harga pun turun drastis.” Saking tingginya permintaan, beberapa jenis adenium berbunga tumpuk miliknya ludes meskipun bunga belum terlihat atau mekar. “Kami sampai kehabisan stok, dari 100—300 tanaman yang kami jual, semuanya sudah dipesan. Bahkan masih ukuran bonggol besar dan entres yang baru tumbuh sekitar 5—10 cm,” jelas pria yang sudah lima tahun mengembangkan adenium.

Kini pasaran adenium jenis valentine rose, Black Cristal, double violet, triple violet, triple dark lord, triple amazing, blushing bride, double santa claus, dan fluter berkisar Rp150 ribu—Rp250 ribu per pot

Agar Rajin Berbunga

Supaya hobiis mendapatkan adenium sesuai keinginannya, Ipunk menyarankan membeli di tempat yang terpercaya dan melihat sendiri bunganya. Soalnya, “Masih banyak penjual nakal yang mengatakan jenis double santa claus misalnya, setelah bunga itu mekar ternyata jenis lain,” katanya.

Setelah jenisnya pas, tinggal dirawat sebaik-baiknya. Cara perawatannya tidak istimewa. Lakukan pemangkasan pada tanaman. Jangan biarkan batangnya tumbuh memanjang karena terkesan berantakan. Selain itu, penyiraman tidak disarankan terus menerus lantaran tanaman ini tidak begitu suka air berlebih. “Kalau mau rajin berbunga, media tanam harus kering selama satu minggu. Minggu berikutnya siram dengan pupuk yang memiliki kandungan PK tinggi,” Ipunk membagi tipsnya.

Pupuk dengan kandungan PK itu tinggi dicampur air. Pemberiannya berselang satu sampai dua hari jika musim kemarau. Sebaliknya pas hari-hari hujan, tidak perlu disiram. Penyiraman larutan pupuk tersebut dilakukan saat hari panas.

Untuk memperoleh bunga dalam satu tanaman dengan beragam warna dan bentuk, hobiis bisa melakukan penempelan beberapa entres dari jenis adenium yang disukai. Penempelannya dengan cara flat ataupun V yang seperti penempelan adenium bunga petal satu. Hasil tempelan tersebut ditutup dengan plastik dan diikat. Setelah 10 hari dilepas karena tempelan sudah merekat. “Begitu dilepas dua tiga hari akan keluar mata tunas. Dan rata-rata tiga bulan, tanaman tersebut akan bisa mengeluarkan bunga,” ungkap Ipunk berdasar pengalamannya.

Batang induk yang ditempeli sebaiknya dipilih bonggol yang besar. Semakin besar bonggol bawah, semakin cepat tumbuh entresnya. “Pertumbuhan entresnya pun semakin pesat,” katanya. Sedangkan entres yang akan ditempelkan, pilih entres yang sehat dan panjang agar bisa mendapatkan sambungan yang banyak dalam satu batangnya. Batang yang akan ditempelkan tersebut sebaiknya yang gemuk.

Tri Mardi Rasa

Dari : agrina-online.com

Selasa, 24 Agustus 2010

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...