Selasa, 18 Mei 2010

Berkah dari Cylindrica

Sejak Mei 2003, hampir setiap bulan Aemona berburu indukan sansevieria ke Bali, Lampung, Yogyakarta, dan Bandung. Target utama adalah laurentii. Ketika itu laurentii merupakan satu-satunya spesies lidah mertua yang ia ketahui. Namun, di tengah perjalanan, ia kerap kepincut kecantikan lidah jin lainnya. 'Bentuknya unik dan cantik,' kata perempuan kelahiran Bandung itu. Ia pun langsung membeli tanaman yang belum diketahui namanya itu. Tak heran bila sebelum mencapai daerah tujuan, setengah mobil boksnya terisi lidah mertua.

Dari perburuan ke berbagai daerah, Aemona berhasil mengumpulkan 161.400 indukan. Itu terdiri dari 160.000 Sansevieria trifasciata 'laurentii', 400 S. cylindrica, 700 S. aubrytiana, dan 300 S. trifasciata 'bantels's sensation'. Sansevieria-sansevieria itu ditanam di 2 kebun di Cibadak, Sukabumi, dan Pondokaren, Tangerang, masing-masing seluas 5.000 m2.
Omzet

Dari hasil perbanyakan secara generatif-biji-diperoleh varian baru cylindrica berukuran lebih kecil daripada induk. 'Tingginya tak pernah lebih dari 30 cm,' ujar perempuan yang pobia ular itu. Bandingkan dengan cylindrica 'sky line' yang tingginya mencapai 150 cm. Kini total cylindrica 'patula' koleksinyai 20.000 tanaman. Sementara dari pemisahan anakan diperoleh 3.400 bantels's sensation, 3.000 aubrytiana, dan 4.000 sky line.

Lidah-lidah mertua itulah yang ia pasarkan. Awalnya pemasaran dilakukan pada ajang pameran Flora dan Fauna Lapangan Banteng 2006. Di sana Aemona berhasil menjual 200 sky line berdaun 3 helai, 200 bantels's sensation, 100 aubrytiana, dan 300 patula. Total omzet lebih dari Rp30-juta.

Sejak itu permintaan sansevieria mulai berdatangan. Kini volume penjualan di lapaknya di Pondokaren, Tangerang, rata-rata 90 sky line berdaun 3 helai, 60 bantels's sensation, 30 aubrytiana, dan 150 patula. Dengan harga masing-masing Rp20.000/ daun, Rp50.000/pot, Rp30.000/pot, dan Rp10.000/pot, omzetnya Rp10,8-juta/bulan.

Aemona tak tahu pasti biaya perawatan. Ia hanya menggunakan polybag serta campuran media tanah, pupuk kandang, dan sekam bakar masing-masing satu bagian. Bila ditaksir rata-rata Rp1.500/polybag, maka total biaya produksi untuk 330 sansevieria sebesar Rp495.000. Dengan begitu pehobi jalan-jalan ke luar negeri itu memperoleh laba bersih Rp10,3-juta per bulan. Itu belum termasuk keuntungan dari koleksi unik terbatas, 1-2 pot saja, seperti S. parva, S. fischeri alias kuku bima, dan S. cylindrica 'midnight star' yang nilai jualnya mencapai Rp1-juta/pot.
Kecewa

Keseriusan Aemona mengebunkan sansevieria justru berawal dari kekecewaan. Lima tahun silam datang seseorang yang menawarkan kerja sama bisnis mengebunkan laurentii. Ibu 3 anak itu langsung setuju lantaran penampilan tanaman cantik dan tak berulat. Ketika itu pamor lidah jin melonjak lantaran eksportir dari Korea berbondong-bondong mencari kerabat dracaena itu. Aemona menyediakan lahan dan sang mitra bertanggung jawab terhadap bibit. Namun, setelah menunggu 5 bulan sang rekanan tak pernah kembali. Padahal, Aemona sudah mengeluarkan jutaan rupiah untuk mengolah lahan 5.000 m2 di Cibadak, Sukabumi.

Jebolan Ilmu Komunikasi Universitas Prof Dr Mustopo itu akhirnya berbisnis sendiri. Di sela-sela kesibukannya sebagai ketua Lembaga Kursus Bahasa Asing, Perhotelan, dan Fotografi, Aemona rajin berburu sansevieria setiap bulan ke berbagai daerah, seperti Bali, Bandung, Blitar, Pasuruan, Yogyakarta, dan Lampung.

Panen perdana awal 2004. Ketika itu Aemona tak kesulitan dalam memasarkan sansevierianya. Maklum, lokasi kebun di pinggir jalan sehingga tampak dari luar. Sebanyak 5.000 laurentii diborong pengumpul seharga Rp7.000/tanaman berdaun 2-3 helai. Dari situ permintaan terus meningkat hingga rata-rata 30.000 tanaman/bulan.

Keberhasilan di Sukabumi mendorong Aemona membuka lahan baru di Tangerang dengan luasan sama. Lagi-lagi keberuntungan menghampirinya. Dari kebun di Tangerang, Aemona berhasil menjual rata-rata 20.000 laurentii/bulan. Sayang, berkah laurentii tak berlangsung lama. Serangan penyakit busuk basah Erwinia carotovora dan Fusarium moniliforme pada pertengahan 2005 menghancurkan kebun di Sukabumi.

Daun sansevieria terlihat lodoh seperti terkena siraman air panas. Dari 100.000 tanaman hanya 500 yang terselamatkan dan diboyong ke Tangerang. Namun, lidah jin yang terlihat sehat itu justru membawa malapetaka. Ia menulari sansevieria lain di kebun Tangerang. Walhasil, Aemona harus memusnahkan semua laurentii. Kerugian bernilai Rp60-juta pun tak terelakkan.

Meski terkena musibah bertubi-tubi, Aemona tak patah semangat. 'Untung masih ada cylindrica yang tahan terhadap penyakit,' kata perempuan berusia 59 tahun itu. Sansevieria yang pertama kali dipelihara sejak 15 tahun silam itu seakan menjadi dewa penyelamat. Sebanyak 200 pot cylindrica 'sky line' berdaun 2-4 helai ludes terjual di pameran Flora dan Fauna Lapangan Banteng pada 2006. Itu belum termasuk penjualan midnight star, baseball, kuku bima, dan parva yang jumlahnya masing-masing 10 pot. Itulah buah perjalanan Aemona 5 tahun silam. (Rosy Nur Apriyanti)

www.trubus-online.co.id

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...