Sabtu, 29 Mei 2010

Geliat Tanaman Purba


Kebun seluas 1.000 m2 di salah satu sudut Jalan Raya Yogyakarta-Parangtritis itu berdinding anyaman bambu setinggi 2 m. Atap plastik berangka bambu menghalangi paparan sinar matahari yang terik. Lantainya, tanah bekas sawah yang dipadatkan. Di atasnya berderet rak-rak bambu setinggi 1 m yang dipenuhi tray semai dan polibag hitam beragam ukuran. Dari kebun sederhana itu, Miftah Muhammad Akbari baru saja mengirim 12.000 polibag Pachypodium lamerei dan geayi senilai Rp300-juta untuk pelanggan di Jakarta.

Pengiriman pada akhir Mei itu bukan kali pertama. Sebelumnya, pria 23 tahun itu menjual 7.500 seedling P. saundersii secara bertahap dengan harga Rp15.000-Rp25.000. Dari situ, Miftah meraup omzet minimal sebesar Rp112,5-juta. Itu masih ditambah penjualan rutin 40.000 polibag lamerei dan geayi per bulan sejak Maret 2007 senilai minimal Rp600-juta per bulan. Kucuran rupiah itu kini bersalin rupa menjadi lahan seluas 1.000 m2-semula Miftah mengontrak kebun- rumah berdinding bata merah yang artistik, serta 2 pick up dan sebuah SUV terbaru merek terkenal.

Nun di Alam Sutera, Tangerang, Handry Chuhairy pun tengah menikmati manisnya pachypodium. Sampai April 2007, pemilik nurseri Han's Garden itu melepas 8.000 lamerei dan geayi dengan harga di tingkat pengecer Rp25.000-Rp30.000. Berarti diperoleh pendapatan minimal Rp200-juta. Itu belum termasuk penjualan 150 P. rosulatum berumur 10 bulan setinggi 10 cm sejak akhir 2006 seharga Rp150.000 per pot. Dari jenis terakhir, ada tambahan omzet Rp22,5-juta. Pantas direktur pemasaran salah satu pasar swalayan terkenal itu kini getol memperbanyak populasi tanaman. Waktu wartawan Trubus, Dyah Pertiwi Kusumawardani dan Sardi Duryatmo, datang pada akhir Mei 2007, sekitar 10.000 pot lamerei dan geayi memenuhi kebun berdampingan dengan adenium.

Insting bisnis

Kejadian serupa dialami Anwar di Permatahijau, Jakarta Selatan. Gara-gara penjualan 3.000 pot P. saundersii, baronii, dan rosulatum seharga Rp90.000 per pot, pemilik nurseri Mutia Flora itu mengantongi tambahan pendapatan Rp270-juta selama setahun terakhir. Di Yogyakarta, Rosidi menangguk omzet Rp125-juta per bulan dari lamerei, geayi, dan saundersii sejak akhir 2006.

Bukan tanpa alasan bila keempat pekebun itu menangguk rupiah dalam jumlah besar. Saat pemain lain masih asyik berkutat di adenium, Miftah, Handry, Anwar, dan Rosidi mulai melirik pachypodium. Yang disebut pertama menerjuni bisnis anggota famili Apocynaceae itu sejak Agustus tahun silam. Itu bermula dari 20 pot saundersii dan pameran di Yogyakarta.

'Wah ini bagus sekali. Mirip adenium bonggol,' cetus Miftah kala itu. Sepintas sosok saundersii memang serupa mawar gurun nonobesum-adenium berkarakter, begitu sebutannya-yang saat itu mulai ngetren. Caudex besar dengan banyak percabangan, tajuk kompak. Yang membedakan dengan adenium, ada duri di sekujur batang. Toh, itu tak mengurungkan niat mahasiswa sebuah akademi komputer di Semarang itu untuk memborong 20 pot.

Berawal dari saundersii, Miftah memburu jenis lain. Insting bisnisnya berkata, pachypodium bakal mengekor popularitas adenium. Berbekal ilmu dari Rosidi-paman yang pekebun bibit adenium-Miftah mulai menyemai biji saundersii, geayi, dan lamerei. Biji diimpor dari Amerika Serikat dan Spanyol. Hasilnya, penjualan rutin yang berujung pada laba.

Ingin mengekor kesuksesan para pionir, banyak pemain baru bermunculan. Di sentra bisnis Harapanindah, Bekasi, Andretha Helmina, wartawan Trubus, bertemu Yayang Baihaqi. Di nurserinya terlihat P. namaquanum, brevicaule, eburneum, rosulatum kristata, densiflorum, horombense, saundersii, dan geayi dengan ukuran bervariasi. Pemilik Ezza Landscape itu memajang pachypodium lantaran kerap mendengar pembicaraan pengunjung kontes dan pameran adenium yang penasaran melihat sosok madagascar palm itu. Baru mulai bermain pada Januari 2007, kini setiap bulan terjual 5-15 pot.

Di Cibinong, Bogor, ada Asep Suganda yang mulai menyemai biji lamerei, makayense, horombense, eburneum, rosulatum, dan cactives pada Mei 2007. Total jenderal ada 300 biji yang didapat dari importir di Jakarta. Di Purwokerto, Eni Susilowati menyetok lamerei, geayi, dan saundersii di nurserinya sejak April 2007. Sementara di Tangerang ada Supeno Rahman, Kurniawan Djunaedhi, dan Suhendra Wijaya. Pemain lain, Madyana Heru Wicaksono (Semarang), Eddy Sutioso, dan Jeanne Wenas (Surabaya).

Urusan duit

Motivasi bisnis pendorong utama terjun ke pachypodium. 'Saya suka uang, bukan tanamannya,' seloroh Suhendra. Pemilik nurseri Aneka Flora itu menyediakan pachypodium karena ada permintaan. Bisnis utamanya penjualan aglaonema. Pilihannya tidak salah. Pada Maret-April 2007, dari rosulatum dan brevicaule didapat omzet Rp100-juta per bulan.

Kurniawan Djunaedi menyisipkan pot-pot lamerei, geayi, dan rosulatum di antara adenium, anthurium, dan aglaonema-komoditas andalan. Hasilnya, 5.000 seedling pachypodium itu terjual dengan harga Rp25.000-Rp50.000 per tanaman, tergantung ukuran.

Para pemain sepakat, tren pachypodium kian menggeliat sejak awal 2007. Itu antara lain terlihat dari lonjakan permintaan. Anwar menyebut angka 100% tambahan permintaan dibanding setahun silam. Gara-gara penjualan lancar, mulai Juni Supeno mengimpor 500 pot lamerei beragam ukuran. Sebelumnya, hanya 25-50 pot sekali datang. Di Bandung, penjualan di nurseri Venita naik dari 1.000 pot per bulan jadi 3.000 pot per bulan ukuran 8 cm. Permintaan tinggi mendorong kenaikan harga.

Bukti lain, kehadiran kerabat kamboja jepang itu di pameran. Pada ekshibisi Trubus Agro Expo di Taman Bunga Wiladatika, Cibubur, Jakarta Timur, pada akhir Maret 2007, minimal ada 3 stan menjajakan pachypodium. Kejadian serupa berulang pada Trubus Agro Expo berikut di Museum Purna Bhakti Pertiwi, Pinangranti, Jakarta Timur, pada Mei 2007. Pada pameran flora dan fauna di Semarang pada Mei 2007 pachypodium juga mendominasi.

Langka = mahal

Musabab geliat peachypodium, 'Konsumen mulai jenuh dengan tanaman hias yang ada. Mereka butuh selingan tanaman baru,' tutur Handry. Pachypodium jadi pilihan lantaran berkerabat dekat dengan adenium yang tengah naik daun. Lagipula tanaman asal Afrika Selatan dan Madagaskar itu gampang dirawat dan adaptif di dataran rendah dan tinggi. Penampilannya pun eksotis. Yayang Baihaqi menyebutnya seperti tanaman purba.

Penampilan Pachypodium brevicaule mirip batu bila tanpa daun-biasanya ketika baru didatangkan dari alam. Setelah dirawat, daun bulat berwarna hijau bermunculan sembari membawa calon bunga berwarna kuning terang. Itu yang membuat hobiis jatuh hati. Di kawasan Modernland, Tangerang, Edi Sebayang mengoleksi 20 pot yang didatangkan langsung dari Madagaskar via Thailand. Lantaran diambil dari alam, harganya mahal (baca: Tumbuh Lambat Harga Selangit, hal 20).

Pachypodium baronii berbunga merah. Trubus melihatnya berkembang di kediaman I Putu Eko Setiawan di Cibubur, Jakarta Timur, dan kediaman Alun di Kebonjeruk, Jakarta Barat. Saundersii-meski populasi mulai banyak-juga dicari lantaran mirip dengan adenium. 'Ini arabicumnya pachypodium,' ujar Rosidi.

Jenis 'lumrah' tapi punya penampilan berbeda juga diburu. Edi Sebayang rela merogoh kocek puluhan juta rupiah untuk mendapatkan lamerei kristata berbentuk lafaz Allah. Paulus Purwito Handoyo di Tangerang punya lamerei kristata menyerupai keranjang. Di Pondokindah, Jakarta Selatan, Soeroso Soemopawiro mengoleksi lamerei kristata seperti kapal laut. Sementara di Bogor Joseph Ishak mempunyai rosulatum kristata.

Barang koleksi

Euforia pachypodium bukan pertama kali terjadi. Husein Ahmad, pemain tanaman hias kawakan di Jakarta Barat ingat, madagascar palm itu pernah populer pada 1980-an. Gara-garanya, banyak pemain tanaman hias membawa pachypodium sebagai oleh-oleh dari kunjungan ke pameran tanaman hias setiap akhir tahun di Belanda. Ada juga yang menyebutkan, pachypodium dibawa almarhumah Ibu Negara Tien Soeharto 40 tahun silam.

Dari sana, tanaman berduri itu mulai diperdagangkan. Namun, jumlahnya masih sangat terbatas. Selain dari Belanda, para importir mendatangkan dari Jerman, Afrika Selatan, dan Thailand dengan cara ditenteng, bukan impor besar-besaran.

Para penggemarnya pun masih tertentu. Sekadar menyebut contoh Jeanne Wenas di Surabaya. Istri mantan pemilik klub sepakbola terkenal itu antara lain mengoleksi lamerei dan saundersii kristata. Yang disebut pertama setinggi 2 m masih bisa dilihat Nesia Artdiyasa, wartawan Trubus, waktu berkunjung ke sana.

Maklum, harga pachypodium masih dianggap mahal. Husein ingat, brevicaule berdiameter 30- 50 cm dibandrol US$600 setara Rp1,2-juta dengan kurs Rp2.000 per dolar. Geayi berdiameter 20-40 cm setinggi 35-50 cm harganya mencapai Rp900.000. Sepot lamerei kristata menyerupai naga milik Husein diboyong kolektor di Bekasi dengan uang senilai 3 motor Honda GL.

Bisnis tanaman gurun itu mencapai puncaknya pada 1990-an. Kala itu Husein bisa menjual 10- 20 pot jenis brevicaule, rosulatum, geayi, lamerei, dan baronii dengan harga bervariasi: US$20- US$600. Sayang, pamor pachypodium kemudian melorot. Musababnya, bermunculan tanaman hias lain yang jadi alternatif. Pada era 1995-1999, bonsai jadi primadona. Memasuki 2000, adenium yang naik daun. Itu diikuti dengan euphorbia, aglaonema, dan anthurium. Apalagi, pemain yang konsisten bermain di dunia sukulen-terutama pachypodium-terhitung jari. Di antara mereka: nurseri Venita di Bandung dan Josef Ishak di Bogor.

Penyebab lain, 'Stok tanaman tidak tersedia,' kata Suhaemi Basir Melan, pencinta dan pedagang pachypodium sejak 1992. Gara-gara barang tidak ada, konsumen yang hendak membeli kapok. Mereka yang mengoleksi banyak yang tak mengerti cara perawatannya. Akibatnya tanaman rusak bahkan mati, hobiis pun bosan.

Gagal mentis

Belajar dari pengalaman itu, para pemain baru kini mesti bersiap diri menghadapi tantangan si tanaman berduri. Serangan hama dan penyakit tetap jadi kendala. Keberhasilan semai bervariasi. Di awal penanaman, dari 35.000 biji saundersii yang disemai Miftah, lebih dari separuh mati. Kejadian serupa dialami Anwar. Lima bulan silam 5.000 biji saundersii dan baronii yang disemai tak satu pun tumbuh. Ketika diulang 2 bulan berikutnya, dari 1.200 biji hanya 3 yang mentis. Anwar menduga, biji tidak segar sehingga tingkat kelulusan hidup rendah.

Ketersediaan biji sangat tergantung pasokan alam-menurut Temi Hernadi 90% biji yang beredar masih dikumpulkan dari alam. Pantas Dwiana Inawati mesti menunggu berbulan-bulan untuk mendapat 2.500 biji lamerei dan geayi dari Australia.

Membeli tanaman jadi pun bukan perkara gampang. Pengalaman Eddy Sutioso, pachypodium yang diimpor dari Thailand harus dikemas satu per satu menggunakan koran dan gabus. Kondisi tanaman pun kering. Bila tidak, madagascar palm itu busuk setiba di tanahair. Ketersediaan tanaman besar pun terbatas.

Batu sandungan lain, citra tanaman. Masih banyak yang enggan memiliki madagascar palm itu lantaran punya duri di sekujur tubuh. Padahal buat para pencintanya, duri salah satu elemen keindahan pachypodium. 'Dengan duri jadi terlihat gagah,' tutur Husein.

Pasar pun perlu dirintis dengan mempertebal urat malu. Waktu pertama kali menawarkan pachypodium, pelanggan Anwar langsung menolak. Saundersii, baronii, dan rosulatum yang diselipkan di antara adenium untuk pelanggan di Banyuwangi, Jember, Malang, Surabaya, Medan, Aceh, dan Batam dikembalikan. Awal menjual, pelanggan di nurseri Toekangkeboen milik Kurniawan menyangka pachypodium sebagai kaktus.

Spesifik

Toh, para pemain tak gentar. Bertubi-tubi tantangan justru dianggap sebagai peluang. Modal tekun Anwar membuahkan permintaan berlanjut hingga kini. Supaya tanaman asal impor cepat beradaptasi, Suhaemi memberikan larutan 'penyegar' tanaman seperti vitamin B1. Untuk mengurangi risiko busuk, media tanam direndam dengan campuran fungisida dan insektisida sebelum digunakan. Dengan perawatan tepat madagascar palm di tempat Soeroso, Paulus Purwito, Anwar, dan Yayang Baihaqi berbunga susul-menyusul.

Begitu batu sandungan diatasi para pionir menuai rezeki. Apalagi pasar mulai meluas. Rosidi melayani permintaan dari Lampung, Jember, dan Surabaya. Pelanggan Miftah datang dari kota-kota di Kalimantan, Sumatera, dan Bali. Suhendra memasok pasar di Yogyakarta, Semarang, Solo, dan Surabaya.

Menghindari persaingan ketat, kelahiran Sumatera Barat 52 tahun silam itu memilih berkonsentrasi pada jenis rosulatum dan brevicaule. Prinsip serupa dijalani Eddy Sutioso. Pemilik nurseri Santa itu fokus menjual jenis-jenis kristata dan unik, misal brevicaule, eburneum, makayense, dan densiflorum.

Supaya 'umur' pachypodium langgeng, ajang kontes dan pameran sebuah prasyarat. 'Dengan dipamerkan di kontes, semakin banyak orang melihat keindahan pachypodium,' kata Husein, Paulus Purwito, dan Yayang Baihaqi sepakat. Selain itu perlu sosialisasi cara rawat dan jaminan pasokan barang. Napas tanaman gurun itu pun lebih panjang lantaran banyak jenis-jenis unik yang masih sulit didapat. Sebut saja Pachypodium lealii var lealii, decaryi, dan fiherensis. Belum lagi silangan-silangan alami dan buatan yang jarang dimiliki kolektor.

Belakangan jenis kristata mulai diperbanyak dengan cara disambung pucuk dengan batang bawah lamerei dan geayi. Itu antara lain diimpor Eddy Suharry dari Yui Po Chen di Tian-Wei, Cuhng-Hua, Taiwan. Tujuannya agar populasi si abnormal lebih banyak. Dengan begitu si purba bakal lebih banyak yang menikmati. (Evy Syariefa/Peliput: Andretha Helmina, Argohartono A. Raharjo, Destika Cahyana, Dyah Pertiwi Kusumawardani, Imam Wiguna, Karjono, Kiki Rizkika, Lastioro A. Tambunan, Nesia Artdiyasa, Rosy N. Apriyanti, dan Sardi Duryatmo

Dari : Trubus-Online.co.id

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...