Selasa, 25 Mei 2010

NOTULIS Gathering Komunitas Puring, 13 Desember 2008



NOTULIS

Gathering Komunitas Puring, Gonku Landscape & Stock Plant-Sawangan, 13 Desember 2008

Setelah sempat diundur karena menyesuaikan waktu dengan teman2 yang hadir, akhirnya gathering tahap kedua dilaksanakan tanggal 13 Desember 2008 bertempat di Gonku Nursery, Sawangan. Rencana semula acara dibuka pukul 9 pagi namun karena banyak teman2 yang nyasar, akibatnya mulur sampai jam 11, ooaalahhh…. Akhirnya kumpul jg deh sekitar 20 orang, lumayan..

Pertemuan kali ini berfokus pada pembentukan organisasi Komunitas Puring dan problematika industri puring. Organisasi atau paguyuban ini hendaklah merupakan bentuk wadah komunitas yang jelas dan terarah, bukan asal – asalan hanya mengikuti tren saja. Anggota komunitas puring saat ini ada sekitar 100 orang, terdiri dari anggota pasif dan aktif. Diputuskan untuk pembentukan pengurus berasal dari anggota yang hadir saat gathering ini, untuk pengembangannya ditentukan kemudian. Adapun pengurus yang terbentuk adalah :

Ketua : Heri Syaefudin (Gonku)

Wakil Ketua : Zulfikar

Sekretaris : Novilia

Bendahara : Arry

Humas : Didi, Brilliantoro, Silo, Firdaus, Pashya, Andri

Semoga kepengurusan ini dapat berjalan dengan lancar dan pastinya perlu dukungan dari teman2 semua.

Ada masukan dari Bpk. Heri mengenai segmentasi komunitas puring ini. Karena tanaman puring sendiri terdiri dari berbagai kelas dari kelas harga murah (tanaman proyek) sampai harga selangit (kolektor item). Apakah akan berfokus pada pelestarian plasma nuftah (puring2 asli Indonesia), orientasi bisnis atau hanya sekedar koleksi. Pembahasan mengenai hal ini belum terjawab karena lebih tertuju pada pembentukan pengurus terlebih dahulu.

Image tanaman puring saat ini masih terpuruk karena masih dianggap sebagai tanaman kuburan. Mungkin belum banyak orang yang tertarik untuk menghiasi taman atau sudut rumahnya dengan tanaman puring gara2 image tersebut. Maka dengan adanya Komunitas Puring ini diharapkan mampu mengangkat image atau derajatnya menjadi lebih terhormat lagi dan masyarakat pun tidak ragu tuk mensejajarkan puring dengan aglaonema atau jenis tanaman koleksi lainnya. Amiieennn…

Bpk. Briliantoro concern mengenai identifikasi puring secara genetik, karena yang beredar saat ini sudah tidak jelas asal – usulnya. Belum ada informasi yang baku dan tepercaya mengenai silangan2 puring. Namun sepertinya hal itu sulit sekali tuk dilakukan, mengingat jenis yang ada ini mungkin sudah hasil silangan beberapa generasi indukan. Sulit sekali dicari puring yang benar2 species (asli) dari sekian banyak jenis, kecuali mungkin orang2 LIPI yang berkompeten mengurusi hal ini.

Hal yang paling mungkin dilakukan adalah identifikasi berdasarkan bentuk fisiknya (bentuk daun, warna, motif, dll). Jenis puring berdaun lebar dikelompokkan dengan jenis daun lebar, dan selanjutnya.

Penamaan puring pun belum ada standarisasinya. Dari satu jenis puring yang sama dapat ditemui nama yang berbeda2. Hal ini tentu saja membuat bingung. Semoga dengan adanya Komunitas Puring ini ada usaha2 untuk perbaikan yang lebih baik. Mungkin bisa saja diadakan pertemuan Puringers seluruh Indonesia untuk membahas standarisasi penamaan puring sehingga terbentuk nama yang baku.

Selama ini pelaku bisnis tanaman di Indonesia tergantung pada Thailand, India dan lain2 untuk pemenuhan terhadap tanaman puring. Alangkah lebih baik jika kita pun memperhatikan puring2 jenis local yang banyak sekali beredar. Jenis2 puring Indonesia pun tidak kalah menarik. Sudah saatnya kita melepas ketergantungan pada Thailand dan mulailah untuk mencari pangsa pasar di luar negeri. Sebenarnya tidak ada salahnya bila kita mengimport dari luar negeri, namun apabila hal itu menjadi kecanduan tentu tidak ada manfaatnya bagi pertanian kita.

Ada teman, Ibu Siti dari Sukabumi yang memang berorientasi ekspor. Menurut beliau, permintaan akan puring di Korea dan China lumayan tinggi. Hanya saja karena saat ini masih musim salju dan adanya krisis global, ekspor tanaman belum dilakukan lagi. Sambil menunggu, beliau giat berproduksi puring. Yang diminati adalah puring yang sudah diokulasi beberapa jenis, jadi pada satu tanaman akan terbentuk berbagai macam jenis. Tentu saja jenis puring local karena puring2 koleksi harganya sangat tidak terjangkau. Ibu Siti sudah mengusahakan untuk bermitra dengan petani2 di Cipanas, namun hanya sedikit saja yang mampu memenuhi pesanan puring okulasi sesuai dengan standar bakunya. Sehingga saat ini beliau terpaksa memproduksi sendiri. Ada teman2 yang berminat jadi mitra ???!!!

Semoga apa yang sudah didiskusikan bukan wacana semata, perlu ada effort dan support dari semua pihak. Semangat ya guys..!!!

Ditulis oleh : Novillia – Komunitas Puring Indonesia

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...