Sabtu, 29 Mei 2010

Pachypodium Media Tepat Hasil Eksperimen


Bagi pemain tanaman hias akhir tahun 90-an, pachypodium bukanlah barang asing. Namun, buat Aris Budiman, pemain adenium kawakan, madagascar palm tree itu harus dipelajari lagi walaupun masih sama-sama tanaman gurun seperti kamboja jepang. Adeng-begitu ia disapa-butuh waktu 3 bulan untuk menemukan media yang tepat.

Pachypodium memang pernah tren pada 1997. Ketika itu Adeng masih sibuk membuat laporan keuangan di salah satu perusahaan elektronika di Yogyakarta. Waktu luang ia habiskan untuk mentraining tanaman bonsai kesayangan. Tak terbersit sedikit pun tentang pachypodium dalam pikiran pemilik nurseri Watu Putih itu. Wajar bila kini bungsu dari 5 bersaudara itu terpaksa belajar kembali untuk menumbuhkan kerabat adenium itu dalam media tepat.

Adeng mencoba berbagai media sejak September 2006. Berbekal pengetahuan tentang adenium, mantan kepala cabang perusahaan elektronika terkemuka itu awalnya menggunakan media nonpupuk: campuran 3 bagian sekam bakar dan 1 bagian pasir malang. Untuk nutrisi tanaman, diberikan pupuk setiap satu minggu. Pupuk terdiri dari vitamin B1, NPK seimbang 20:20:20, Dekamon, dan pupuk dengan unsur kalsium cair. Hasilnya, 60 pot lamerei, geayi, namaquanum, dan rosulatum berumur 1,5 bulan tumbuh sehat.

2 tahap

Meski pertumbuhan pachypodium bagus, tapi hati Adeng masih waswas dengan campuran media nonpupuk tersebut. 'Kalau pekerja lupa memberi pupuk, kan berabe. Kasihan tanamannya,' ujarnya. Akhirnya pada November 2006, mantan akuntan itu kembali bereksperimen dengan media. Kali ini penelitian terbagi dalam 2 tahap. Tahap pertama menggunakan media campuran sekam setengah matang, pasir malang, dan pupuk kandang. Pupuk kandang terdiri dari kotoran kambing dan sapi yang terfermentasi sempurna dengan perbandingan 1:1.

Tahap pertama terdiri dari 3 model media dengan campuran bahan yang sama, tapi komposisi berbeda. Media model pertama, sekam setengah matang, pasir malang, dan pupuk kandang dengan perbandingan 1:1:1; kedua, 2:2:1, dan ketiga, 2:1:1.

Setiap campuran media diterapkan pada lebih dari 100 pot geayi dan lamerei. Pachypodium diletakkan di bawah plastik UV dan disiram setiap hari. Selama satu minggu pertumbuhan anggota famili Apocynaceae itu terus diamati. Hasilnya, 2 model media pertama yang dipakai terlalu porous sehingga mudah kering. Media pun cepat memadat. Akibatnya, penampilan tanaman sukulen itu tidak segar, daun menguning karena kekurangan air. Media pada model ketiga sudah mulai gembur. 'Namun, over pupuk sehingga tanaman mudah busuk,' kata Adeng.

Tak puas dengan hasil percobaan pertama, penggemar bonsai itu pun melanjutkan penelitiannya. Tahap kedua menggunakan campuran media yang sama dengan tahap pertama, tapi komposisi sekam setengah matang dinaikkan. Perbandingan media menjadi 3:1:1, 4:1:1, dan 5:1:1.

Hasilnya, campuran media pertama dan kedua masih terlalu banyak pupuk organik sehingga pachypodium busuk setengah. Bahan organik mengandung N tinggi memacu pertumbuhan. Namun, dinding sel lunak sehingga tanaman mudah ditembus hama dan penyakit.

Media model ke-3 memberikan hasil paling maksimal. Pertumbuhan pachypodium baik dicirikan daun yang hijau dan segar. Risiko busuk pun sangat sedikit. 'Lebih dari 5.000 pachypodium yang menggunakan media terakhir (komposisi 5:1:1, red), hanya 10 tanaman yang busuk,' ujar pemilik nurseri Watu Putih itu.

7 tahun

Nun di Semarang, Jawa Tengah, di nurseri Gamacactus menggunakan media campuran pasir malang, sekam bakar, dan pupuk kandang dengan perbandingan 2:2:1/2. Plus kapur dolomit sebanyak 5% dari volume total media untuk menjaga pH agar tetap netral. Formula media yang aman bagi pachypodium itu tak langsung diperoleh begitu saja. Pemiliknya melakukan eksperimen selama 7 tahun sejak 1988-1995.

Awalnya dipakai media campuran pasir biasa yang kasar, sekam bakar, dan pupuk kandang dengan perbandingan 1:1:1. Semula pertumbuhan pachypodium bagus, tapi setelah 3-6 bulan berangsur busuk. Itu lantaran media mudah becek. Media lembap mengundang banyak penyakit. Lalu komposisi media diganti menjadi 2:1:1. Tanaman malah tumbuh bantet alias lambat.

Campuran media pun diubah kembali. Humus dipakai sebagai pengganti pupuk kandang dan sekam bakar diganti dengan sekam mentah. Komposisi pun bermacammacam. Namun, hasilnya tetap nihil. Pachypodium rosulatum yang dipakai sebagai eksperimen tak kunjung tumbuh optimal.

Kegagalan demi kegagalan dialami Gamacactus. Namun, pemiliknya tak patah arang sampai akhirnya titik terang muncul pada 1995. Ketika itu hadir pasir malang sebagai media tanam. Pasir malang membuat media porous dan mengandung mineral. Setelah lebih dari 7 kali percobaan, akhirnya Gamacactus menemukan media yang aman dipakai untuk pachypodium. Intinya, jangan memberikan pupuk kandang atau humus dengan volume lebih dari 20% dari total media. 'Musababnya membuat tanaman mudah busuk.

Kini, nurseri Gamacactus menggunakan campuran pasir malang, sekam bakar, dan pupuk kandang dengan perbandingan 2:2:1/2 ditambah 5% kapur dolomit. Hasilnya, pertumbuhan pachypodium prima. Daun hijau dan keluar terus, duri gendut, dan kaku.

Porous

Temi Hernadi di Lembang, Bandung, menggunakan media campuran pasir beton No.1, sekam bakar, dan pupuk kandang yang berasal dari kotoran ayam atau kuda. Perbandingannya 1:1:1. 'Pokoknya porositasnya mencapai 70-80%,' kata Temi. Maklum, pachypodium berasal dari daerah gersang, kering, dan berpasir sehingga butuh media yang tidak menahan air terlalu banyak.

Selain itu, media harus remah. 'Media padat menghambat pertumbuhan akar sehingga pendek,' ujar anak sulung pemilik nurseri Venita itu. Akibatnya tanaman tak berkembang, daun pucat, rontok, batang keriput atau gembos meski disiram terus menerus.

Memang tak mudah menemukan media yang tepat untuk pachypodium. Mereka harus dipelajari terlebih dahulu karakteristiknya. Itulah yang dilakukan Adeng triwulan pertama. (Rosy Nur Apriyanti/Peliput: Hermansyah dan Imam Wiguna)

Dari : Trubus-Online.co.id

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...