Sabtu, 15 Mei 2010

Puring Baru dari 3 Penjuru

Pernah nonton film Kingkong yang dibintangi oleh Adrien Brody? Di dalam film Hollywood itu sosok primata itu digambarkan lebih tinggi daripada gedung-gedung pencakar langit. Di nurseri Godong Ijo, Depok, ada kingkong yang tingginya cuma 30 cm.

Tak hanya katai, kingkong itu berdaun tebal dengan warna kombinasi hijau dan kuning. Meski pendek, penampilannya rimbun. Maklum kingkong di nurseri itu croton baru yang didatangkan dari Taiwan. Lantaran bersosok kecil, ada embel-embel little di depan namanya. Jadilah Codiaeum variegatum itu berjuluk little kingkong.

Yang juga bersosok pendek di sana, puring dengan daun seperti trisula. Itu pun datang dari Pulau Formosa. Meski bukan 'sentra' utama, negara berbentuk daun tembakau itu juga mengembangkan puring. Anggota famili Euphorbiaceae itu dibudidayakan di Kaohsiung yang tropis.
Juara kontes

Namun, tentu saja beragam croton lebih mudah ditemukan di negara-negara produsen utama. 'India, Amerika Serikat, dan Thailand adalah 3 besar produsen puring,' tutur Chandra Gunawan, pemilik nurseri Godong Ijo. Di sana kerabat bunga delapan dewa itu disilang-silangkan untuk menghasilkan varian baru yang menawan.

Sekadar menyebut contoh puring berdaun panjang dan keriting koleksi Gunawan Wijaya. Sepintas sosoknya mirip jenis yang ada di tanahair. Bedanya croton yang didatangkan dari Thailand itu punya warna tak biasa. Daun tua didominasi warna jingga-sangat jarang pada tanaman hias daun, bahkan puring yang kaya warna. Daun mudanya kuning cerah. Dari kejauhan paduan warna itu menghasilkan kesan kontras yang menarik. Sosoknya pun lebih besar. Pantas karotong itu pernah dinobatkan sebagai juara pada lomba tanaman hias di negeri Siam.

Jingga juga mendominasi daun muda puring baru yang masih tanpa nama. Pada daun tua warna itu muncul sebagai lis di tepi dan tengah daun-menimpa tulang daun.
Mutasi

Meski belum disebut dalam daftar penghasil croton terbesar di dunia, Indonesia juga punya banyak ragam puring. Apalagi sejatinya kerabat tanaman patah tulang itu asli Maluku. Dari hasil perburuannya di sekitar Tangerang, Handry Chuhairy menemukan jenis-jenis mutasi.

Sebut saja dalmation mutasi. Aslinya katomas itu berpola totol-totol kuning di atas dasar hijau. Pada tanaman mutasinya justru totol-totol kuning yang mendominasi. Dominasi warna kuning juga muncul pada croton berjuluk warisan purba. 'Untuk mendapatkannya susah. Semula pemiliknya tidak mau melepas,' ujar Handry tentang asal-usul nama. Balega semangga itu akhirnya berpindah tangan setelah Handry setuju memboyong total 9 tanaman yang ada.

Yang juga mengalami kelainan tapi jadi lebih cantik ialah luna maya, bidadari, mentega, monalisa, dan early morning. Luna maya berasal dari puring berjuluk lilin. Yang membuat Handry jatuh cinta, croton itu berpola daun hijau di tengah dan kuning di tepi. Lazimnya sebaliknya.

Toh meski bukan mutasi, karoton lain di tangan Gandung tak kalah cantik. Kolektor di Yogyakarta itu punya perisai raja yang ukuran daunnya besar. Sosoknya terlihat gagah dengan warna cokelat dan tulang daun merah. Gandung juga mengoleksi widuri dan yellow pearl. Keduanya berpaduan warna kuning hijau. Widuri berdaun lebar dengan pola seperti tulang ikan, yellow pearl hijau berbintik kuning.

Yang juga cantik, srilanka daun panjang dan kamadatu di nurseri Camelia. Keduanya bernuansa 4 warna: merah kehitaman-merah pada daun tua dan hijau-kuning di daun muda. Dari berbagai penjuru, puring menebar pesona warna. (Evy Syariefa/Peliput: Nesia Artdiyasa)

dari : trubus-online.co.id

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...