Sabtu, 29 Mei 2010

Puring India dan Puring Lokal


Sejarah Puring

Puring pertama kali diidentifikasi di wilayah laut Seram, Maluku, pada 1600 dengan nama codiaeum mollucanum. Di Eropa, puring mulai dikenal pada 1804 ketika perahu East Indies berlabuh di London, Inggris. Kecantikan puring membuat kaum bangsawan Inggris menggandrunginya. Lantaran tanaman ini masih langka dan hanya dimiliki kaum bangsawan, maka dinamakan King of Plant.

Bak lukisan, tanaman puring memiliki warna-warni yang indah, cerah dan cantik. Tanaman dengan nama latin Codiaeum -- sebuah nama yang diberikan oleh seorang botaniawan asal belanda GE Rumphius pada 1660 -- ini merupakan tanaman asli tropis. Namun dalam perkembangannya, tanaman ini lebih banyak dikembangkan di daratan Eropa, Amerika Serikat, dan Jepang. Sedangkan di kampung halamannya, yakni Indonesia, Filipina, Thailand, Malaysia, Srilangka dan India, tanaman ini masih dianggap tanaman liar.

Setelah berjaya di Eropa dan Amerika pada abad 18, terutama setelah kelahiran puring varietas-varietas baru hasil persilangan, mulailah kaum petani tanaman hias Asia melakukan pembudidayaan. Tidak jelas sejak tahun berapa, namun dalam perkembangannya kini banyak bermunculan varietas baru yang cantik dan unik, seperti puring apel merah dan kura-kura asal Thailand, dust ruby asal Filipina, puring tokek asal Malaysia, dan puring oscar, puring concord brazil asal Indonesia.

Asal-usul puring dan habitatnya
Puring dikenal dengan nama ilmiah Codiaeum alias Crozophyla, Junghuhnia, Phyllaurea, dan Synaspisma. Oleh para pakarnya, ia diklasifikasikan seagai berikut.

Kingdom : Plantae
Divisi : Magnoliophyta
Kelas : Magnoliophyta
Ordo : Malpighiales
Famili : Euphorbiaceae
Subfamili : Crotonoideae
Rumpun : Codiaeae
Genus : Codiaeum A.Juss
Spesies : Codiaeum affine
Codiaeum hirsutum
Codiaeum megalanthum
Codiaeum tenerifolium
Codiaeum veriegatum

Puring India

Setelah puring Thailand, kini giliran puring dari negerinya Sharukh Khan, India, berjaya. Spesialis puring berdaun lebar dan tebal dengan warna-warni yang cerah ini banyak diburu kolektor. Harganya pun jutaan rupiah.

Heri Saepudin, pemilik Gonku Landscape and Stock Plant di Sawangan Depok, Jawa Barat, mengatakan, saat ini puring yang tengah menjadi leader dan banyak diburu para kolektor adalah puring asal India atau lebih dikenal puring tipe flat, berdaun lebar dan tebal dengan warna terang dan cerah. Salah satunya puring fantastic alias temu ireng atau dikenal puring banglor. Puring banglor memiliki daun yang lebar, tebal dan memanjang, dengan struktur tulang yang besar dan kokoh. Keunikan lain, warnanya yang cerah, merah tua dengan garis tengah berwarna merah muda. Untuk daun yang masih muda berwarna hijau tua dengan garis tengah berwarna kuning. Jika telah tua, warnanya akan semakin menyala dan cantik.

“Bentuknya unik, warnanya dan juga masih langka, belum banyak yang membudidayakan membuat puring banglor ini mahal, dan disenangi para kolektor,” ungkap Heri.

Hal senada juga dikatakan Amdanih yang juga pembudidaya puring di Sawangan. Menurut Amdanih, banglor dengan daunnya lebar membuat tanaman ini menjadi buruan kolektor. Selain itu, puring ini juga memiliki warna yang cantik. Maka tak heran jika harganya bisa mencapai jutaan rupiah. Untuk ukuran kecil – yang tinggi batangnya 4-5 cm, belum termasuk daunnya -- para kolektor harus merogoh koceknya hingga Rp600 ribu per pot.

Puring asal India lainnya yang kini digandrungi adalah varietas yellow queen. Puring jenis ini terdiri dari dua batang besar dengan warna daun dominan hijau dihiasi kuning keemasan di tengah daun. Selain itu ada juga puring patricia, yaitu puring berdaun kuning dan hijau dengan struktur tulang yang tebal sehingga guratannya terlihat. Seperti banglor, jenis ini juga memiliki daun yang lebar-lebar.

Kemudian ada puring legacy, berwarna merah tua dengan struktur daun yang kokoh, dan puring Indiana yang juga merupakan puring koleksi. Jenis ini terlihat elegan dan fantastik dengan daun yang kurus memanjang berwarna merah tua dengan sedikit titik pada daunnya.

Puring Lokal Naik daun
Selain puring-puring India, kata Amdanih, ada beberapa jenis puring lokal yang masih mendapat tempat di hati masyarakat. Salah satunya puring oscar dan concord brazil. Harga yang ditawarkan untuk puring lokal ini tidak setinggi puring – puring asal India. Harganya berada dalam kisaran Rp100 ribu hingga Rp300 ribu per pohon ukuran kecil.

Puring oscar terdiri dari tiga jenis, yakni: oscar madu, oscar batik, dan oscar sukabumi. Bapak dua anak ini mengatakan, puring oscar memiliki permukaan daun yang melebar dan menggelembung di tengah dengan ujung daun yang lancip. Puring ini memiliki warna kuning kemerahan dan hijau. Khusus oscar batik, pada daunnya terdapat bintik-bintik, mirip batik. Dari ketiga jenis oscar ini, yang paling banyak diminati kolektor dan konsumen adalah oscar batik.

Dibanding tanaman lainnya pembudidayaan puring oscar membutuhkan waktu relatif lebih lama. Sama dengan puring kura-kura asal Thailand yang memakan waktu 1,5 - 2 bulan hingga tumbuh akarnya dan siap tanam.

“Oscar memang lambat budidayanya, baik distek maupun dicangkok. Mungkin karena sulit dan lambat itulah yang membuat jenis ini langka dan banyak dicari,” ucap Amdanih.

Jenis lokal lainnya yang juga naik daun adalah jenis concord brazil. Jenis ini memiliki 3 varian, yakni concord merah, concord kuning dan concord brazil. Dinamakan concord brazil karena warna daunnya menyerupai seragam tim sepakbola Brazil, merah dan kuning.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...