Senin, 31 Mei 2010

Harga Jenmanii

Harga Jenmanii Rp 60.000,- perpohon belum termasuk ongkos kirim



Jemani harga Rp 20.000,- perpohon belum termasuk ongkos kirim

Harga Bibit Philodendron Moonlight

Harga Rp 15.000,- perpohon, belum termasuk ongkos kirim

Puring Kura-Kura Cangkokan

Puring Kura-kura cangkokan 1


Puring Kura-kura cangkokan 2


Puring Kura-kura cangkokan 3


Puring Kura-kura cangkokan 4


Puring Kura-kura cangkokan 5


Tinggi tanaman 40 - 50 cm
Harga Rp 125.000,- perpohon, belum termasuk ongkos kirim

Harga Bibit Aglaonema Pride Of Sumatera


Perdaun Rp 5.000,-

Harga Bibit Aglaonema Lipstick Siam Aurora


Harga perdaun Rp 5000,-

Minggu, 30 Mei 2010

Belajar dari Pengalaman Rawat Bonsai


Posted on January 25, 2008 by ppbisidoarjo

Pertemuan PPBI Cabang Sidoarjo kali ini, digelar dengan agenda berupa pendidikan kilat (diklat) tentang tatacara merawat bonsai. Wawang Sawala, dari seksi pendidikan, yang tampil sebagai narasumber langsung mengajak peserta pertemuan di kebun Husni Bahasuan di kawasan Bintang Diponggo Surabaya itu (12/1) untuk secara bersama-sama mengkaji dan melakukan training dengan bakalan bonsai yang tersedia.

Pohon rempelas, bakalan pertama yang disediakan, selama ini dikenal ada dua jenis. Yaitu yang memiliki daun runcing, ada yang bergerigi. Menurut pengalaman Syaiful Arief, seorang trainer yang ikut hadir menyampaikan pengalamannya, bahwa daun rempelas sulit dibuat menjadi ukuran kecil yang proporsional dengan batangnya. Jadi untuk membuat proporsional harus diperbesar dulu batangnya.

Kata Wawang, pohon Rempelas memang sangat jarang muncul di pameran. Diakuinya, dia tidak memiliki pengalaman melakukan training rempelas. Kebetulan, bakalan milik Husni Bahasuan ini memiliki batang majemuk, atau bergaya clumb. Maka diskusipun berlangsung seru, tentang bagian mana yang harus dipotong. Masing-masing orang memiliki pendapat sendiri, bahkan cenderung berseberangan.

Pengenalan jenis tanaman ini memang penting. Sebab, menurut Wawang, tiap jenis tanaman membutuhkan perlakuan yang berbeda satu sama lain. Ketika menghadapi bakalan bonsai, katanya, sebaiknya tidak berpikir tentang gaya apa yang akan diterapkan. Perhatikan baik-baik bakalan tersebut, lantas tentukan center of point, yaitu memilih bagian yang paling menarik untuk ditonjolkan sebagai tampak depannya.

Pentingnya Media

Satu hal yang sangat mendasar untuk para pemula, adalah bagaimana menguasai media bonsai itu sendiri. Sebab, meski bonsai adalah sebuah karya seni rupa, namun kalau ternyata tidak tumbuh subur dan sehat, maka tidak layak disebut bonsai yang bagus. Salah satu aspek kesehatan dan kesuburan itu adalah bagaimana medianya yang pas untuk bonsai.

Perhatian terhadap media itu sudah harus dilakukan sejak masih berada di habitat aslinya. Itu kalau mendapatkan bakalan dengan cara berburu. Menurut pengalaman, untuk mendapatkan Cemara Udang harus menyertakan juga tanah asalnya. Ketika kemudian ditanam dalam pot, cemara atau tanaman pantai lainnya, gunakan pasir dengan porsi lebih banyak, dengan perbandingan 3:1 (pasir : humus).

Ada pengalaman lain, bahwa Santigi, pada awalnya tidak boleh menggunakan pupuk organik. Menurut Wawang, hal ini karena lebih banyak risiko yang timbul karena pupuk organik dikhawatirkan tidak steril. Apalagi sebagai tanaman baru rentan penyakit. ”Medianya pakai pasir saja 100 persen,” ujar Wawang.

Sesekali boleh dilakukan penyiraman dengan pupuk organik, namun dalam konsentrasi yang sangat encer, misalnya dengan B-1.

Disarankan, bakalan yang baru diambil dari alam, jangan terkena langsung terkena sinar matahari, tapi juga jangan ditempatkan di tempat gelap. Cukup di tempat teduh, dan secara bertahap digeser ke tempat yang terkena sinar matahari. Kalau terus berada di tempat gelap akan menyulitkan adaptasi, sehingga kalau nanti terkena panas malah langsung mati.

Sebagai tanaman baru, juga disarankan agar melakukan pengurangan daun untuk mencegah penguapan. Peletakan batang sedemikian rupa, yang kokoh, agar tidak goyang.

Penyiraman tidak usah dilakukan selama medianya sudah lembab, cukup dikerudungi saja. Kalau sudah tidak ada pengembunan, baru disiram.

Pengerodongan dengan plastik transparan selain dimaksudkan untuk menghindari penguapan, juga merangsang tumbuhnya tunas, setelah sebelumnya disiram dengan perangsang akar dengan konsentrasi rendah.

Namun berdasarkan pengalaman lain, kerodong plastik ada bahayanya, karena begitu dibuka masih butuh adaptasi lagi. Ada yang lebih suka pakai paranet, yang alamiah saja, asal rajin diperiksa, maka bakalan bakal tumbuh subur. Waspadai jamur di musim hujan, semprot dengan fungisida sebelum parah.

Soal penyiraman, sulit menentukan resep tepat berapa kali penyiraman. Tergantung cuaca, udara dan sebagainya. Sebaiknya dipelajari berdasarkan pengalaman teman-teman yang sudah melakukannya. Yang jelas, jika medianya terlalu halus, penyiraman cukup seminggu 1 – 2 kali. Kalau porous, bisa beberapa kali. Cara mengukurnya, kalau disiram cepat habis, berarti butuh penyiraman lebih sering.

Penggunaan pupuk bisa juga memilih jenis yang slow release, yaitu yang larut sedikit sedikit, misalnya srintil atau kotoran kambing. Untuk pupuk halus, tempatkan di atas media, sedikit ditutupi media, tapi jangan diaduk, supaya tidak langsung menurun ke dasar pot. Sebab secara alami pupuk halus akan menurun seiring dengan frekensi penyiraman. -hnc
(Majalah GREEN Hobby, edisi 6/Januari-Februari 2008)

Sabtu, 29 Mei 2010

Puring Hasil Cangkokan

Puring Kura-kura cangkokan Harga Rp 125.000,- per pohon, belum termasuk ongkos kirim. Tinggi tanaman sekitar 40 - 50 cm

TANAMAN GURUN YANG MULAI DIBURU


Jangan salah, tanaman ini bukanlah kaktus. Meskipun sama-sama termasuk tanaman gurun, tanaman yang masih satu famili dengan Adenium ini punya keistimewaan sendiri. Selain berduri, tanaman ini pun berbonggol.

Enam bulan lalu, Pachypodium mungkin belum banyak diburu orang. Sepintas bentuknya mirip kaktus karena batangnya berduri. Tak heran jika terkadang orang salah, menganggap ini tanaman kaktus. Tapi kalau melihat bonggolnya, mirip benar dengan Adenium. Tak heran, karena Pachypodium dengan Adenium adalah satu famili, yaitu Apocynaceae. Keluarganya yang lain adalah Plumeria, Nerium, dan Allamanda.

Jadi, tak heran juga jika banyak orang menyebut tanaman yang kebanyakan berasal dari Madagaskar ini sebagai Adenium berduri. "Keunikannya terletak pada batang dan bonggol yang dilapisi duri," papar Kiki Hermanto Bachtiar dari Zha Zha Flora.

Selain tumbuh ke atas mencapai 1,5 meter, ada juga yang melebar ke samping, berbentuk kipas. Jenisnya yang ada di pasaran, seperti P. christata lameri, P. rosulatum grasilis, P. saundersii, dan P. succulentum. Cara pembiakan Pachy selain dari biji bisa dilakukan dengan memotong sebagian batangnya agar tumbuh cabang baru. "Meski dari tanaman yang bagus, tak sayang harus dipotong karena nanti harganya akan lebih mahal."

Tanaman Tahunan
Tanaman yang namanya diambil dari bahasa Yunani ini menyukai hawa panas, dan tidak sulit merawatnya. "Penyiraman cukup sehari sekali dan harus kena panas penuh karena termasuk tanaman gurun," ujar Kiki sambil mengatakan tanaman ini tak pas kalau disimpan di dalam rumah. "Kendala merawat Pachy, paling saat memindahkan tanaman ke media lain harus disimpan dulu di tempat teduh. Baru dua atau tiga hari kemudian bisa diletakkan di tempat panas."

Media tanamnya terdiri dari sekam, pasir malang, cocopeat, dan pupuk kandang. "Lebih bagus kalau banyak pasir malang. Agar hasilnya bagus dan maksimal, media tanam harus baik dan benar." Meski Pachy berbunga, harus sabar menunggu karena butuh waktu lama. "Warnanya ada yang putih, kuning, ungu, dan oranye."

Dari sekitar 60 species, yang digemari penghobis adalah jenis P. rosulatum karena pertumbuhannya yang lambat. "Mungkin karena kalau yang cepat tumbuh, kan, sudah biasa orang lihat. Tak heran jika harga jualnya juga lebih tinggi." Sementara untuk harga Pachy lain, di Zha Zha Flora, dari yang paling kecil jenis P. lameri berkisar Rp 30 ribu. Sementara jenis yang mahal mencapai Rp 25 juta di Jakarta.

Tanaman ini bisa bertahan lama karena termasuk tanaman tahunan. "Hanya saja harus sabar menunggu sampai tinggi. Yang jenis P. lameri saja untuk mencapai tinggi 1,5 meter butuh waktu bertahun-tahun. Perhatikan, jika bibit kecil sudah mulai membesar pindahkan ke tempat yang lebih lebar."

Program Percabangan
Pachypodium bisa diperbanyak lewat cara biji maupun program percabangan. Tidak semua jenis bisa dilakukan program percabangan. Biasanya dipakai yang batang tunggal. Berikut cara percabangan:
1. Potong bagian batang tanaman yang sehat sampai tersisa 3 cm dari tanah.
2. Beri depin secara merata di atas bagian yang sudah dipotong. Depin dipakai untuk mematikan pertumbuhan bonggol. Selain itu supaya bercabang banyak.
3. Setelah 2-3 bulan kemudian mulai tumbuh cabang yang beraturan dengan bentuk indah.
4. Harga jualnya lebih mahal bahkan bisa dua kali lipat.

Sumber: Zha Zha Flora, Flora Alam Sutera, Serpong, Tangerang (021 70337045).



Noverita K. Waldan
FOTO-FOTO: < Dokumen Nova >

Dari : tabloidnova.com

Cetak Kaki Pachypodium

Fredi di Yogyakarta melakukan program kaki pada Pachyipodium saoundersii. Batang bawah berdiameter 10 cm dipotong melintang dan dibuang semua akarnya. Bekas potongan diolesi fungisida dan perangsang akar lalu dikeringanginkan sepekan. Kemudian diikatkan pada styrofoam berbentuk piring terbalik dan ditanam pada media pasir malang dan arang sekam. Selang 1 bulan, akar baru tumbuh mengikuti bentuk cetakan. Seleksi akar. Jadilah pachypodium berpenampilan gagah dengan 15 kaki. ***

Kasa Penjebak Serangga

Ngengat, thrip, dan aphid kerap mengganggu pertumbuhan anakan bromelia hasil semai biji. Jika diatasi dengan penyemprotan insektisida, daun anakan gampang rusak seperti terbakar. Nurseri Cornbak di Belanda menggunakan lembaran kasa berperekat—semacam yellow trap. Saat kasa dikibas-kibaskan serangga berloncatan dan seketika terjebak perekat. Anakan bromelia pun selamat dari hama dan kerusakan karena paparan insektisida.***

Dari : Trubus-Online.co.id

Pachypodium brevicaule Cara Cepat Jadi Bongsor


Lihatlah fakta ini. Dalam setahun Pachypodium brevicaule cuma bertambah lebar 1 cm. Itu berarti, brevicaule berdiameter 15 cm-sebesar cakram digital-koleksi Eddi Sebayang di Tangerang kira-kira berumur 15 tahun. Tanaman purba berbentuk seperti umbi kentang itu bakal lebih cepat bongsor bila disambung dengan batang bawah lamerei dan geayi.

Brevicaule bongsor itulah yang Nesia Artdiyasa, wartawan Trubus, lihat di nurseri Watu Putih di Yogyakarta. Sepot brevicaule berdiameter 12 cm baru sekitar 2 tahun disambung dengan batang bawah Pachypodium lamerei. Jika ditumbuhkan dari biji tanpa perlakuan sambungan, ukuran itu baru dicapai setelah 12 tahun. Maklum anggota famili Apocynaceae itu memang dikenal lambat tumbuh. Normalnya, hanya 1 cm per tahun.

Saking lambatnya pertumbuhan brevicaule, seorang kolektor menyebutnya si cebol. Tak cuma lambat, tingkat keberhasilan hidup dari biji pun sangat rendah. Dari total semaian, paling banyak 25% yang lulus hidup. Sisanya gagal berkecambah. Diduga ukuran biji brevicaule yang sangat kecil dan ringan-hanya sebesar wijen-jadi salah satu penyebab.

3 kali lipat

Supaya cepat bongsor, brevicaule disambung dengan batang bawah jenis lain. Lazimnya, dengan Pachypodium lamerei dan P. geayi. Keduanya dipilih lantaran populasinya banyak sehingga gampang didapat dan harga relatif murah. Pertumbuhannya pun cepat dan mudah beradaptasi di berbagai perubahan iklim dan lingkungan. Namun, jenis lain misal rosulatum dan horombense bisa juga dipakai sebagai batang bawah. Hanya konsekuensinya, stok lebih sulit didapat dan harganya mahal.

Setelah disambung, pertumbuhan brevicaule menjadi lebih pesat. 'Secara umum, jika brevicaule disambung per tumbuhannya bisa 2- 3 cm per tahun,' tutur Handry Chuhairy, pekebun di Alam Sutra, Tangerang. Kejadian serupa bila jenis lambat lain-misal P. namaquanum-diperlakukan sama. Secara alami, pachypodium berbentuk cereiform-berbatang tegak lurus-itu bertambah tinggi 5 cm per tahun. Bila disambung pertumbuhannya jadi 10- 12 cm per tahun.

Kerabat adenium itu jadi cepat bongsor lantaran pasokan hara dari batang bawah melimpah. Musababnya, menurut Aris Budiman, pemilik nurseri Watu Putih, lamerei dan geayi punya perakaran lebih kuat. Perakaran kuat, kemampuan mengambil hara pun meningkat. Ketersediaan makanan untuk batang atas lebih terjamin. Sementara perakaran brevicaule sangat lemah sehingga lamban tumbuh.

Sambung Brevicaule

1. Siapkan batang bawah berupa Pachypodium lamerei dan P. geayi. Yang disukai batang bawah yang batangnya masih kehijauan, bukan keperakan, dan sehat. Batang hijau tanda tanaman cukup muda, batang keperakan tanaman cenderung sudah berkayu. Jaringan muda lebih mudah menempel ketimbang jaringan tua. Diameter batang kira-kira sebesar jempol atau berumur 2 minggu pascasemai.
2. Siapkan brevicaule sebagai entres. Yang dipakai tanaman dalam kondisi tumbuh, bukan dorman, dan sehat. Itu lantaran pada pucuk yang sedang tumbuh dinding selnya lebih lentur dan mudah menyambung. Menurut Handry Chuhairy, cirinya ada daun dan mata tunas yang sedang tumbuh.
3. Ambil pucuk yang sedang tumbuh itu sebagai entres. Ukurannya sebesar kuku kelingking-kira-kira diameter 1 cm. Buang daun yang ada untuk mengurangi penguapan. Pisahkan dari 'umbi' utama menggunakan pisau steril.
4. Potong datar batang bawah pada ketinggian kira-kira 7-8 cm. Buang tepi-tepinya yang berduri. Bila tidak, bentuk batang bawah nantinya menyerupai mangkuk dan sulit menyambung dengan entres.
5. Tempel entres mendekati tepi-di situ letak kambium-sehingga diharapkan proses penyambungan terjadi lebih cepat.
6. Supaya posisi entres ajek, tahan menggunakan plastik atau karet.
7. Sungkup dengan plastik dan simpan di tempat teduh selama 2 minggu. Tujuannya supaya sambungan tidak terkena air dan berada dalam kondisi suhu stabil. Untuk mempertahankan kelembapan yang dibutuhkan pachypodium, cukup siram media bila kering. Bila penyambungan dilakukan secara massal, letakkan tanaman di dalam mistroom. Setelah 2 minggu tanaman boleh terkena sinar matahari langsung. Entres dan batang bawah bakal menyambung setelah 3 bulan.
8. Setelah setahun, batang bawah bisa dipendam sehingga sambungan tidak terlihat. Dengan kecepatan pertumbuhan 2-3 cm per tahun, brevicaule berdiameter 15 cm seperti yang Eddi Sebayang miliki bisa dicapai dalam 5-7 tahun. Tidak perlu menunggu hingga 15 tahun. (Evy Syariefa/Peliput: Dyah Pertiwi Kusumawardani)

Dari : Trubus-Online.co.id

Ratu Gurun Tampil Prima


Bunga kuning menyala di ujung batang bercabang dan berduri itu selama 2 bulan lebih. Ir Paulus Purwito Handoyo-salah seorang arsitek di Perumahan Bumi Serpong Damai, Tangerang-adalah pemiliknya. Mendengar kabar itu, Handry Chuhairy langsung berkunjung ke rumah Purwito di Parkland, BSD, Tangerang, untuk membuktikan. Diduga fl uktuasi suhu mencolok di loteng rumah Purwito jadi faktor penyebab bunga terus bermunculan.

Purwito tergolong kolektor pachypodium sukses. Pachypodium rosulatum miliknya yang diletakkan di atas loteng rumah bisa berbunga terus menerus selama 2 bulan lebih. Tanaman gurun itu diletakkan di atas genteng lantai dua bersebelahan dengan jenis pachypodium lain. Sebelumnya tanaman itu dirawat selama 4 tahun di Pondokindah, Jakarta Selatan, tapi tidak pernah berbunga. Fluktuasi suhu yang mencolok menjadi salah satu perangsang munculnya bunga. Hal ini sejalan dengan perbedaan suhu di Afrika-habitat asal pachypodium-panas di siang hari dan dingin di malam hari.

P. rosulatum di rumah Purwito hidup berdampingan dengan 14 spesies lain. P. densiflorum, P. geayi, P. lamerei, P. ambongense, P. baronii var windsorii, P. baronii var baronii, P. rutenbergianum var meridionale, P. rutenbergianum var sofiense, P. horombense, P. brevicaule, P. namaquanum, P. bispinosum, P. succulentum, dan P. lealii var saundersii. Semuanya memakai media sama dan bergantian memamerkan bunga.

Kondisi serupa Trubus lihat di kediaman Soeroso Soemopawiro di Pondokindah. Puluhan P. rosulatum tak putus memamerkan bunga putih dan ungu. Sama seperti Purwito, Soeroso meletakkan pachypodium di dak lantai 4. Angin leluasa berembus dari halaman belakang yang berbatasan dengan lapangan golf.

Rakus hara

Bunga pachypodium ditunggu setiap penggemarnya. Sayang, sampai saat ini para pekebun dan hobiis mengaku belum dapat menemukan cara tepat untuk membungakan. 'Harus ada fluktuasi suhu yang mencolok seperti di negara asalnya,' kata Handry menjelaskan. Syarat ini terpenuhi di kebun Purwito dan Soeroso. Tanaman gurun itu diletakkan di bawah sinar matahari langsung tanpa naungan.

Menurut Handry, hobiis di Tangerang, pachypodium termasuk tanaman rakus hara. Berarti tanaman itu menuntut pemberian pupuk secara rutin. Suhaemi, mantan manajer sebuah bank, menggunakan pupuk lambat urai dengan komposisi NPK 9-14-19 atau 7-40-6 ditambah Mg. Dosis 1 sendok makan untuk pot berdiameter 30 cm.

Nutrisi lain seperti Dekamon, Biore, dan B1 diberikan sebulan sekali dengan dosis 75 ml/20 l. B1 digunakan sebagai perangsang akar, sedang Dekamon sebagai perangsang tumbuh. Pupuk daun Growmore dan Kristalon juga bisa diberikan dengan dosis 0,5 g/l.

Ukuran besar-kecilnya pot mempengaruhi pertumbuhan pachypodium. Handry mengecilkan ukuran pachypodium demi efektivitas lahan dan produktivitas. Penggantian pot dilakukan 6-12 bulan sekali. 'Kalau akar sudah penuh, perlu repoting,' kata Temi Hernadi, pemain di Bandung. Cirinya, media di pot terlihat padat dan ketika pot diketuk bunyinya tidak nyaring.

Untuk menyesuaikan dengan kondisi di habitatnya Handry memakai sungkup shading net berkerapatan 40-50% dan plastik UV sebagai naungan semaian. Semua spesies mendapat perlakuan serupa. Berbeda dengan Miftah-pemilik Mac`s Garden, Yogyakarta-yang menggunakan shading net berkerapatan 60%.

Tampil prima

Media awal tanaman gurun sama seperti adenium. 'Tapi lebih porous lagi karena perakarannya agak lemah,' ujar Handry. Pemilik nurseri Han`s Garden itu menggunakan campuran sekam bakar, pasir malang, dan pupuk kandang dengan perbandingan 2:1:1. Itu ditambah dolomit sampai adonan terlihat berwarna agak putih untuk meningkatkan pH. Dengan komposisi itu Handry biasa menyiram setiap hari.

Di Yogyakarta, Miftah menggunakan pasir malang hasil ayakan dicampur humus dan sekam bakar dengan perbandingan 3:6:1. Ayakan pasir menggunakan ukuran sedang, bukan paling halus maupun bongkahan. Humus diambil dari daerah Magelang atas berbatasan dengan Salatiga (kaki Gunung Merbabu). Penyiraman dilakukan 1-3 kali seminggu.

Di dataran tinggi, nurseri Venita, milik Temi Hernadi, menggunakan sekam bakar, pasir malang, dan pupuk kandang dengan perbandingan 1:1:1. Alasannya, di dataran tinggi membutuhkan media lebih porous.

Walaupun berbeda, media pachypod ium tumbuh sehat. 'Anggapan pachypodium benci air salah, kuncinya media porous,' imbuh Handry. Kerabat mawar gurun itu memang tergolong tanaman 'bandel' yang jarang terserang penyakit, asal medianya porous. Namun, sebagai pencegahan dilakukan penyemprotan pestisida berbahan aktif benomil atau skarbendasim, dosis 1 sendok the peres/l. Aplikasinya 1-2 minggu sekali, tapi saat musim hujan bisa sampai 2 kali seminggu. Itu semua kebutuhan tanaman gurun agar tampil prima. (Dyah Pertiwi Kusumawardani).

Dari : Trubus-Online.co.id

Bakal Makin Langka


Bakal Makin Langka

Berita ini pasti langsung menyita perhatian pemain dan penggemar pachypodium: mulai Juni 2007 pemerintah Afrika Selatan memperketat ekspor tanaman lokal! Tanaman-tanaman eksotis khas Benua Hitam itu dipersulit keluar-bahkan ada yang dilarang sama sekali. Termasuk di dalamnya encephalartos dan pachypodium, tutur Handry Chuhairy di Tangerang. Musababnya, pemerintah Afrika Selatan khawatir tanaman endemik punah.



Yang dilarang tak hanya tanaman dewasa, tapi juga biji. Bukan hanya tanaman asal cabutan alam, pun yang sudah dirawat-terutama jenis-jenis langka yang masuk ke dalam Apendiks 1 CITES (Convention on International Trade in Endangered Species). Misal pachypodium brevicaule dan namaquanum. Padahal Afrika Selatan-bersama Madagaskar-sumber utama pachypodium. Di sanalah kerabat kamboja jepang itu hidup.

Pantas berita itu langsung menyulut protes dari investor asal Jerman dan Amerika Serikat yang banyak membuka nurseri di Benua Hitam itu. Beralasan karena mereka sudah menginvestasikan banyak uang. Pemerintah Afrika Selatan pun melunak. Peraturan baru akan diberlakukan pada Februari 2008.

Andalkan alam

Toh, berita itu sudah membuat sebagian orang buru-buru menyetok pachypodium. Maklum, pasokan madagascar palm selama ini memang mengandalkan tangkapan alam. Para pemilik modal-terutama dari Jerman dan Belanda-mengumpulkan tanaman untuk dirawat di nurseri. Sementara pemodal dari Amerika Serikat lebih banyak mengambil biji. Setelah tumbuh sehat barulah tanaman purba itu diperjualbelikan ke berbagai negara. Sebut saja Thailand, Australia, dan Indonesia. Sampai sekarang jenis asal budidaya- hibrida- masih terhitung jari. Contohmya

namaquanum aridland-silangan Pachypodium namaquanum x P. succulentum. Di tanahair, baru Joseph Ishak, Temi Hernadi, dan Handry Chuhairy yang memiliki. Jenis lain: densifl orum x brevicaule dan densifl orum x bicolor lebih sulit dicari. Jadi, beralasan jika pelarangan perdagangan pachypodium diberlakukan, madagascar palm makin langka. (Evy Syariefa/Peliput: Rosy Nur Apriyanti)

Dari : Trubus-Online.co.id

Geliat Tanaman Purba


Kebun seluas 1.000 m2 di salah satu sudut Jalan Raya Yogyakarta-Parangtritis itu berdinding anyaman bambu setinggi 2 m. Atap plastik berangka bambu menghalangi paparan sinar matahari yang terik. Lantainya, tanah bekas sawah yang dipadatkan. Di atasnya berderet rak-rak bambu setinggi 1 m yang dipenuhi tray semai dan polibag hitam beragam ukuran. Dari kebun sederhana itu, Miftah Muhammad Akbari baru saja mengirim 12.000 polibag Pachypodium lamerei dan geayi senilai Rp300-juta untuk pelanggan di Jakarta.

Pengiriman pada akhir Mei itu bukan kali pertama. Sebelumnya, pria 23 tahun itu menjual 7.500 seedling P. saundersii secara bertahap dengan harga Rp15.000-Rp25.000. Dari situ, Miftah meraup omzet minimal sebesar Rp112,5-juta. Itu masih ditambah penjualan rutin 40.000 polibag lamerei dan geayi per bulan sejak Maret 2007 senilai minimal Rp600-juta per bulan. Kucuran rupiah itu kini bersalin rupa menjadi lahan seluas 1.000 m2-semula Miftah mengontrak kebun- rumah berdinding bata merah yang artistik, serta 2 pick up dan sebuah SUV terbaru merek terkenal.

Nun di Alam Sutera, Tangerang, Handry Chuhairy pun tengah menikmati manisnya pachypodium. Sampai April 2007, pemilik nurseri Han's Garden itu melepas 8.000 lamerei dan geayi dengan harga di tingkat pengecer Rp25.000-Rp30.000. Berarti diperoleh pendapatan minimal Rp200-juta. Itu belum termasuk penjualan 150 P. rosulatum berumur 10 bulan setinggi 10 cm sejak akhir 2006 seharga Rp150.000 per pot. Dari jenis terakhir, ada tambahan omzet Rp22,5-juta. Pantas direktur pemasaran salah satu pasar swalayan terkenal itu kini getol memperbanyak populasi tanaman. Waktu wartawan Trubus, Dyah Pertiwi Kusumawardani dan Sardi Duryatmo, datang pada akhir Mei 2007, sekitar 10.000 pot lamerei dan geayi memenuhi kebun berdampingan dengan adenium.

Insting bisnis

Kejadian serupa dialami Anwar di Permatahijau, Jakarta Selatan. Gara-gara penjualan 3.000 pot P. saundersii, baronii, dan rosulatum seharga Rp90.000 per pot, pemilik nurseri Mutia Flora itu mengantongi tambahan pendapatan Rp270-juta selama setahun terakhir. Di Yogyakarta, Rosidi menangguk omzet Rp125-juta per bulan dari lamerei, geayi, dan saundersii sejak akhir 2006.

Bukan tanpa alasan bila keempat pekebun itu menangguk rupiah dalam jumlah besar. Saat pemain lain masih asyik berkutat di adenium, Miftah, Handry, Anwar, dan Rosidi mulai melirik pachypodium. Yang disebut pertama menerjuni bisnis anggota famili Apocynaceae itu sejak Agustus tahun silam. Itu bermula dari 20 pot saundersii dan pameran di Yogyakarta.

'Wah ini bagus sekali. Mirip adenium bonggol,' cetus Miftah kala itu. Sepintas sosok saundersii memang serupa mawar gurun nonobesum-adenium berkarakter, begitu sebutannya-yang saat itu mulai ngetren. Caudex besar dengan banyak percabangan, tajuk kompak. Yang membedakan dengan adenium, ada duri di sekujur batang. Toh, itu tak mengurungkan niat mahasiswa sebuah akademi komputer di Semarang itu untuk memborong 20 pot.

Berawal dari saundersii, Miftah memburu jenis lain. Insting bisnisnya berkata, pachypodium bakal mengekor popularitas adenium. Berbekal ilmu dari Rosidi-paman yang pekebun bibit adenium-Miftah mulai menyemai biji saundersii, geayi, dan lamerei. Biji diimpor dari Amerika Serikat dan Spanyol. Hasilnya, penjualan rutin yang berujung pada laba.

Ingin mengekor kesuksesan para pionir, banyak pemain baru bermunculan. Di sentra bisnis Harapanindah, Bekasi, Andretha Helmina, wartawan Trubus, bertemu Yayang Baihaqi. Di nurserinya terlihat P. namaquanum, brevicaule, eburneum, rosulatum kristata, densiflorum, horombense, saundersii, dan geayi dengan ukuran bervariasi. Pemilik Ezza Landscape itu memajang pachypodium lantaran kerap mendengar pembicaraan pengunjung kontes dan pameran adenium yang penasaran melihat sosok madagascar palm itu. Baru mulai bermain pada Januari 2007, kini setiap bulan terjual 5-15 pot.

Di Cibinong, Bogor, ada Asep Suganda yang mulai menyemai biji lamerei, makayense, horombense, eburneum, rosulatum, dan cactives pada Mei 2007. Total jenderal ada 300 biji yang didapat dari importir di Jakarta. Di Purwokerto, Eni Susilowati menyetok lamerei, geayi, dan saundersii di nurserinya sejak April 2007. Sementara di Tangerang ada Supeno Rahman, Kurniawan Djunaedhi, dan Suhendra Wijaya. Pemain lain, Madyana Heru Wicaksono (Semarang), Eddy Sutioso, dan Jeanne Wenas (Surabaya).

Urusan duit

Motivasi bisnis pendorong utama terjun ke pachypodium. 'Saya suka uang, bukan tanamannya,' seloroh Suhendra. Pemilik nurseri Aneka Flora itu menyediakan pachypodium karena ada permintaan. Bisnis utamanya penjualan aglaonema. Pilihannya tidak salah. Pada Maret-April 2007, dari rosulatum dan brevicaule didapat omzet Rp100-juta per bulan.

Kurniawan Djunaedi menyisipkan pot-pot lamerei, geayi, dan rosulatum di antara adenium, anthurium, dan aglaonema-komoditas andalan. Hasilnya, 5.000 seedling pachypodium itu terjual dengan harga Rp25.000-Rp50.000 per tanaman, tergantung ukuran.

Para pemain sepakat, tren pachypodium kian menggeliat sejak awal 2007. Itu antara lain terlihat dari lonjakan permintaan. Anwar menyebut angka 100% tambahan permintaan dibanding setahun silam. Gara-gara penjualan lancar, mulai Juni Supeno mengimpor 500 pot lamerei beragam ukuran. Sebelumnya, hanya 25-50 pot sekali datang. Di Bandung, penjualan di nurseri Venita naik dari 1.000 pot per bulan jadi 3.000 pot per bulan ukuran 8 cm. Permintaan tinggi mendorong kenaikan harga.

Bukti lain, kehadiran kerabat kamboja jepang itu di pameran. Pada ekshibisi Trubus Agro Expo di Taman Bunga Wiladatika, Cibubur, Jakarta Timur, pada akhir Maret 2007, minimal ada 3 stan menjajakan pachypodium. Kejadian serupa berulang pada Trubus Agro Expo berikut di Museum Purna Bhakti Pertiwi, Pinangranti, Jakarta Timur, pada Mei 2007. Pada pameran flora dan fauna di Semarang pada Mei 2007 pachypodium juga mendominasi.

Langka = mahal

Musabab geliat peachypodium, 'Konsumen mulai jenuh dengan tanaman hias yang ada. Mereka butuh selingan tanaman baru,' tutur Handry. Pachypodium jadi pilihan lantaran berkerabat dekat dengan adenium yang tengah naik daun. Lagipula tanaman asal Afrika Selatan dan Madagaskar itu gampang dirawat dan adaptif di dataran rendah dan tinggi. Penampilannya pun eksotis. Yayang Baihaqi menyebutnya seperti tanaman purba.

Penampilan Pachypodium brevicaule mirip batu bila tanpa daun-biasanya ketika baru didatangkan dari alam. Setelah dirawat, daun bulat berwarna hijau bermunculan sembari membawa calon bunga berwarna kuning terang. Itu yang membuat hobiis jatuh hati. Di kawasan Modernland, Tangerang, Edi Sebayang mengoleksi 20 pot yang didatangkan langsung dari Madagaskar via Thailand. Lantaran diambil dari alam, harganya mahal (baca: Tumbuh Lambat Harga Selangit, hal 20).

Pachypodium baronii berbunga merah. Trubus melihatnya berkembang di kediaman I Putu Eko Setiawan di Cibubur, Jakarta Timur, dan kediaman Alun di Kebonjeruk, Jakarta Barat. Saundersii-meski populasi mulai banyak-juga dicari lantaran mirip dengan adenium. 'Ini arabicumnya pachypodium,' ujar Rosidi.

Jenis 'lumrah' tapi punya penampilan berbeda juga diburu. Edi Sebayang rela merogoh kocek puluhan juta rupiah untuk mendapatkan lamerei kristata berbentuk lafaz Allah. Paulus Purwito Handoyo di Tangerang punya lamerei kristata menyerupai keranjang. Di Pondokindah, Jakarta Selatan, Soeroso Soemopawiro mengoleksi lamerei kristata seperti kapal laut. Sementara di Bogor Joseph Ishak mempunyai rosulatum kristata.

Barang koleksi

Euforia pachypodium bukan pertama kali terjadi. Husein Ahmad, pemain tanaman hias kawakan di Jakarta Barat ingat, madagascar palm itu pernah populer pada 1980-an. Gara-garanya, banyak pemain tanaman hias membawa pachypodium sebagai oleh-oleh dari kunjungan ke pameran tanaman hias setiap akhir tahun di Belanda. Ada juga yang menyebutkan, pachypodium dibawa almarhumah Ibu Negara Tien Soeharto 40 tahun silam.

Dari sana, tanaman berduri itu mulai diperdagangkan. Namun, jumlahnya masih sangat terbatas. Selain dari Belanda, para importir mendatangkan dari Jerman, Afrika Selatan, dan Thailand dengan cara ditenteng, bukan impor besar-besaran.

Para penggemarnya pun masih tertentu. Sekadar menyebut contoh Jeanne Wenas di Surabaya. Istri mantan pemilik klub sepakbola terkenal itu antara lain mengoleksi lamerei dan saundersii kristata. Yang disebut pertama setinggi 2 m masih bisa dilihat Nesia Artdiyasa, wartawan Trubus, waktu berkunjung ke sana.

Maklum, harga pachypodium masih dianggap mahal. Husein ingat, brevicaule berdiameter 30- 50 cm dibandrol US$600 setara Rp1,2-juta dengan kurs Rp2.000 per dolar. Geayi berdiameter 20-40 cm setinggi 35-50 cm harganya mencapai Rp900.000. Sepot lamerei kristata menyerupai naga milik Husein diboyong kolektor di Bekasi dengan uang senilai 3 motor Honda GL.

Bisnis tanaman gurun itu mencapai puncaknya pada 1990-an. Kala itu Husein bisa menjual 10- 20 pot jenis brevicaule, rosulatum, geayi, lamerei, dan baronii dengan harga bervariasi: US$20- US$600. Sayang, pamor pachypodium kemudian melorot. Musababnya, bermunculan tanaman hias lain yang jadi alternatif. Pada era 1995-1999, bonsai jadi primadona. Memasuki 2000, adenium yang naik daun. Itu diikuti dengan euphorbia, aglaonema, dan anthurium. Apalagi, pemain yang konsisten bermain di dunia sukulen-terutama pachypodium-terhitung jari. Di antara mereka: nurseri Venita di Bandung dan Josef Ishak di Bogor.

Penyebab lain, 'Stok tanaman tidak tersedia,' kata Suhaemi Basir Melan, pencinta dan pedagang pachypodium sejak 1992. Gara-gara barang tidak ada, konsumen yang hendak membeli kapok. Mereka yang mengoleksi banyak yang tak mengerti cara perawatannya. Akibatnya tanaman rusak bahkan mati, hobiis pun bosan.

Gagal mentis

Belajar dari pengalaman itu, para pemain baru kini mesti bersiap diri menghadapi tantangan si tanaman berduri. Serangan hama dan penyakit tetap jadi kendala. Keberhasilan semai bervariasi. Di awal penanaman, dari 35.000 biji saundersii yang disemai Miftah, lebih dari separuh mati. Kejadian serupa dialami Anwar. Lima bulan silam 5.000 biji saundersii dan baronii yang disemai tak satu pun tumbuh. Ketika diulang 2 bulan berikutnya, dari 1.200 biji hanya 3 yang mentis. Anwar menduga, biji tidak segar sehingga tingkat kelulusan hidup rendah.

Ketersediaan biji sangat tergantung pasokan alam-menurut Temi Hernadi 90% biji yang beredar masih dikumpulkan dari alam. Pantas Dwiana Inawati mesti menunggu berbulan-bulan untuk mendapat 2.500 biji lamerei dan geayi dari Australia.

Membeli tanaman jadi pun bukan perkara gampang. Pengalaman Eddy Sutioso, pachypodium yang diimpor dari Thailand harus dikemas satu per satu menggunakan koran dan gabus. Kondisi tanaman pun kering. Bila tidak, madagascar palm itu busuk setiba di tanahair. Ketersediaan tanaman besar pun terbatas.

Batu sandungan lain, citra tanaman. Masih banyak yang enggan memiliki madagascar palm itu lantaran punya duri di sekujur tubuh. Padahal buat para pencintanya, duri salah satu elemen keindahan pachypodium. 'Dengan duri jadi terlihat gagah,' tutur Husein.

Pasar pun perlu dirintis dengan mempertebal urat malu. Waktu pertama kali menawarkan pachypodium, pelanggan Anwar langsung menolak. Saundersii, baronii, dan rosulatum yang diselipkan di antara adenium untuk pelanggan di Banyuwangi, Jember, Malang, Surabaya, Medan, Aceh, dan Batam dikembalikan. Awal menjual, pelanggan di nurseri Toekangkeboen milik Kurniawan menyangka pachypodium sebagai kaktus.

Spesifik

Toh, para pemain tak gentar. Bertubi-tubi tantangan justru dianggap sebagai peluang. Modal tekun Anwar membuahkan permintaan berlanjut hingga kini. Supaya tanaman asal impor cepat beradaptasi, Suhaemi memberikan larutan 'penyegar' tanaman seperti vitamin B1. Untuk mengurangi risiko busuk, media tanam direndam dengan campuran fungisida dan insektisida sebelum digunakan. Dengan perawatan tepat madagascar palm di tempat Soeroso, Paulus Purwito, Anwar, dan Yayang Baihaqi berbunga susul-menyusul.

Begitu batu sandungan diatasi para pionir menuai rezeki. Apalagi pasar mulai meluas. Rosidi melayani permintaan dari Lampung, Jember, dan Surabaya. Pelanggan Miftah datang dari kota-kota di Kalimantan, Sumatera, dan Bali. Suhendra memasok pasar di Yogyakarta, Semarang, Solo, dan Surabaya.

Menghindari persaingan ketat, kelahiran Sumatera Barat 52 tahun silam itu memilih berkonsentrasi pada jenis rosulatum dan brevicaule. Prinsip serupa dijalani Eddy Sutioso. Pemilik nurseri Santa itu fokus menjual jenis-jenis kristata dan unik, misal brevicaule, eburneum, makayense, dan densiflorum.

Supaya 'umur' pachypodium langgeng, ajang kontes dan pameran sebuah prasyarat. 'Dengan dipamerkan di kontes, semakin banyak orang melihat keindahan pachypodium,' kata Husein, Paulus Purwito, dan Yayang Baihaqi sepakat. Selain itu perlu sosialisasi cara rawat dan jaminan pasokan barang. Napas tanaman gurun itu pun lebih panjang lantaran banyak jenis-jenis unik yang masih sulit didapat. Sebut saja Pachypodium lealii var lealii, decaryi, dan fiherensis. Belum lagi silangan-silangan alami dan buatan yang jarang dimiliki kolektor.

Belakangan jenis kristata mulai diperbanyak dengan cara disambung pucuk dengan batang bawah lamerei dan geayi. Itu antara lain diimpor Eddy Suharry dari Yui Po Chen di Tian-Wei, Cuhng-Hua, Taiwan. Tujuannya agar populasi si abnormal lebih banyak. Dengan begitu si purba bakal lebih banyak yang menikmati. (Evy Syariefa/Peliput: Andretha Helmina, Argohartono A. Raharjo, Destika Cahyana, Dyah Pertiwi Kusumawardani, Imam Wiguna, Karjono, Kiki Rizkika, Lastioro A. Tambunan, Nesia Artdiyasa, Rosy N. Apriyanti, dan Sardi Duryatmo

Dari : Trubus-Online.co.id

Pachypodium Mutasi Gara-gara Sel Tak Terkendali


Sepot Pachypodium geayi gendut setinggi 40 cm tak membuat hati Edi Sebayang tergerak. Buat pengusaha tambak yang hobi mengoleksi tanaman hias itu, anggota famili Apocynaceae itu sekadar tanaman gurun berduri. Namun, pertemuan dengan Pachypodium lamerei kristata mengubah pendirian Edi. 'Ini baru cantik,' tuturnya.

Pantas bila Edi berkomentar begitu. Mestinya lamerei berupa tanaman tunggal dengan daun hijau zaitun di ujung batang. Di sekujur tubuhnya bertebaran duri-duri tajam yang berpasangan. Terkadang muncul cabang di bagian pucuk. Namun, begitu berlabel kristata, sosoknya berubah 180o. Batang yang tunggal bersalin rupa jadi seperti lempengan yang bergelombang. Ukuran daun mengecil, sebagian duri berkumpul di tepi lekukan membentuk barisan rapi. Penampilan kerabat adenium itu pun jadi lebih ciamik.

Dari sepot lamerei kristatalah Edi mulai keranjingan mengoleksi. Total jenderal ada 10 pot lamerei kristata dikoleksi. 'Habis tidak pernah ada kristata yang bentuknya sama,' begitu Edi beralasan. Selain lafaz Allah, ia juga mengoleksi kristata berbentuk merak, kudalumping, dan kristata berdaun superkecil. Toh, penggemar ayam serama itu belum berniat berhenti. Edi mengidamkan lamerei kristata berbentuk keranjang. Sayang, sang pemilik belum mau melepas.

Sel bandel

Yang juga kepincut pachypodium kristata, Paulus Purwito Handoyo dan Dwiana Inawati. Pasangan suami istri itu empunya lamerei kristata berbentuk keranjang. 'Pachypodium kristata itu unik,' tutur Ina-sapaan Dwiana Inawati. Di kediaman nan asri, Trubus melihat lamerei kristata berbentuk seperti siput dan ulat. Pun yang melenggak-lenggok tak beraturan, tapi tetap cantik. Pachypodium-pachypodium berbentuk nyeleneh itu didapat dari hasil perburuan dari nurseri ke nurseri.

Menurut Ir Yos Sutioso, pakar tanaman hias di Jakarta, kristata salah satu bentuk mutasi. Kristata terjadi karena percepatan pertumbuhan yang tidak merata pada seluruh sel. 'Misal hanya yang di dekat pucuk saja yang pertumbuhannya lebih cepat. Atau di batang saja,' ujar alumnus Institut Pertanian Bogor itu. Akibatnya bentuk tanaman berubah. Misal batang jadi bengkok atau membentuk kristata.

Percepatan pertumbuhan yang tidak merata itu muncul karena faktor genetik maupun gangguan dari luar. Menurut Yos, secara genetik memang ada tanaman yang relatif lebih peka terhadap faktor-faktor pemicu mutasi. Misal paparan sinar ultra violet yang sangat tinggi atau kekeringan. Yos mencontohkan, di daerah gurun-terutama yang jarang berawan-kerap ditemukan kaktus mutasi. Itu lantaran di sana paparan sinar ultra violet sangat tinggi.

Senada dengan Yos, Lanny Lingga-pengamat tanaman hias alumnus Fakultas Biologi Universitas Kristen Satya Wacana, Salatiga, berpendapat kristata terjadi alami karena pembentukan cabang tidak sempurna. Musababnya, mutasi genetik yang berhubungan dengan pengendalian hormon. Dominasi apikal tanaman terhambat sehingga pertumbuhan menyamping. 'Diduga pada tanaman kristata aktivitas hormon auksin yang berperan pada dominasi apikal terhambat,' tutur Lanny. Mutasi lain berupa perubahan warna dan bentuk daun-jadi variegata atau alba dan bentuk membulat atau mlintir.

Lamerei banyak

Lantaran bersifat mutasi genetik, peluang kemunculannya sangat kecil. Edi ingat, ia sempat iseng-iseng menyemai 1.000 biji lamerei. 'Tapi tak satu pun yang kristata,' katanya. Emiritus Temi Hernadi di Lembang, Bandung, menyebut angka 1:10.000 peluang mutasi lamerei. P. saundersii lebih jarang lagi, 1:100.000. Selain langka, pertumbuhan kristata sangat lambat. Pantas harganya jadi melangit ketimbang yang biasa. Di antara 16 spesies pachypodium, lamerei paling banyak ditemukan bermutasi. 'Itu karena lamerei paling banyak dibudidayakan. Jadi peluang untuk mendapatkan mutasi lebih besar,' ujat Handry Chuhairy, pekebun di Tangerang. Penelusuran Trubus, hampir semua kristata di tangan kolektor berasal dari lamerei.

Sebut saja kristata berbentuk seperti konde koleksi nurseri Nikku & Lavira, bentuk kapal Titanic milik Soeroso Soemopawiro, kristata simetris koleksi Pami Hernadi, dan bentuk naga kepunyaan Rusli Hadinata. Mutasi jenis lain, P. rosulatum kristata milik nurseri Nikku & Lavira dan Pami Hernadi.

Mutasi buatan

Secara teoritis, sebetulnya mutasi bisa direkayasa tangan manusia. 'Mutasi bisa dibuat menggunakan kolkisin,' kata Yos. Kolkisin merupakan zat hasil ekstraksi dari umbi kembang sungsang Gloriosa superba yang punya sifat mencegah pembelahan miosis. Pembelahan miosis adalah pembelahan kromosom sel dari 2n menjadi 1n-misal pada pembentukan tepung sari dan sel telur.

Kolkisin menghambat pembelahan sehingga tepung sari dan sel telur tetap memiliki kromoson 2n. 'Bila sel telur itu dikawinkan bisa menghasilkan keturunan dengan jumlah kromosom 3n, 4n, bahkan lebih,' lanjut Yos. Wujudnya, tanaman baru yang bermutasi-misal membentuk kristata.

Cara seperti itu pernah dilakukan oleh seorang Jepang yang tinggal di Hawaii, Amerika Serikat-Walter Omae-pada dendrobium di era 1960-an. Cara sederhananya, kolkisin diteteskan pada kapas, lalu dimasukkan ke dalam kenop bunga yang belum mekar. Hasilnya, dendrobium walter omae yang ukuran bunganya lebih besar, warna lebih putih, dan petal lebih lebar. Rekayasa lain, dengan menginduksi cobalt-60 melalui proses radiasi.

Setelah tanaman mutasi didapat, lalu diduplikasi dengan perbanyakan vegetatif. Misal kultur jaringan, teknik sambung pucuk, atau tempel. Pada pachypodium yang lazim digunakan perbanyakan dengan teknik sambung. Perbanyakan vegetatif menjamin sifat mutasi menurun pada anakan. 'Dengan generatif, bila sifat mutasi resesif, anakan bisa jadi kembali normal,' tutur Yos. (Evy Syariefa/Peliput: Dyah Pertiwi Kusumawardani)

Dari : Trubus-Online.co.id

Telisik Pachypodium Lewat Ciri Fisik


Nama lamerei dan geayi mulai akrab di telinga para hobiis. Namun, begitu diminta membedakan, banyak yang angkat bahu karena bingung. Maklum, sepintas 2 spesies pachypodium itu mirip. Padahal begitu ditelisik lebih detail, banyak ciri fisik lamerei dan geayi yang berbeda.

Kalau membedakan lamerei dan geayi yang sudah lazim saja sulit, apalagi jika mengidentifikasi jenis-jenis langka. Banyak pachypodium yang sosoknya mirip batang pohon dengan cabang di ujung.

Sebuah foto yang disodorkan Dyah Pertiwi Kusumawardani, wartawan Trubus, pada awal Juni 2007 sempat membuat kening Handry Chuhairy, pekebun di Tangerang, berkerut. 'Ini bisa jadi P. rosulatum atau P. densiflorum,' tutur pemilik nurseri Hans Garden waktu melihat sosok pachypodium setinggi 8 cm dengan diameter batang 7 cm dan 3 cabang itu. Direktur pemasaran sebuah pasar swalayan terkenal itu bakal lebih yakin jika tanaman sudah mengeluarkan bunga.

Beda bunga

Identifikasi madagascar palm bisa dilakukan dengan melihat sosok tanaman, duri, dan daun. Namun, yang paling sahih lewat bunga. Contohnya lamerei dan geayi. Bentuk batang kedua kerabat adenium itu termasuk golongan tree-like pachycaule. Bentuk tanaman seperti pohon dan cabang muncul seiring dengan pertambahan tingginya.

Perbedaan terletak pada daun dan bentuk bunga. Daun lamerei berwarna hijau mengkilap di bagian atas. Sementara geayi, keperakan dengan diselimuti bulu. Bentuk daun geayi lebih ramping dan panjang dibandingkan lamerei. Bahkan daun geayi disebut-sebut sebagai yang terpanjang di antara spesies pachypodium.

Dilihat dari bentuk bunga, lamerei termasuk model salverform. Bentuk bunga seperti lonceng dengan corong sangat sempit. Untuk melihat benang sari dan putik lebih jelas harus menyobek petal bunga. Beda dengan geayi yang bentuk bunganya rotate. Benang sari dan putik terlihat jelas tanpa harus merusak bunga.

Jenis lain yang mirip-mirip P. densiflorum, P. horombense, dan P. rosulatum. Sosok ketiga pachypodium itu termasuk dalam golongan shrubby pachycaule. Bonggol bercabang banyak seperti semak. Duri dan warna bunga pun sama. Densiflorum, horombense, dan rosulatum termasuk spesies dari Afrika Selatan sehingga memiliki duri panjang, tidak meruncing, dan berjumlah dua.

Warna bunga kuning, tapi bentuknya sangat berbeda. Bunga densiflorum seperti geayi, rotate. Sedangkan horombense, campanulate. Model campanulate mirip salverform, seperti lonceng, tapi lubang corong lebih lebar dan pendek. Rosulatum termasuk model funnelform. Bentuk bunga sama seperti campanulate, tapi corongnya lebih panjang dan sempit. Tak salah bila Handry merasa lebih mudah mengidentifikasi pachypodium bila ada kembang. (Rosy Nur Apriyanti/Peliput: Dyah Pertiwi Kusumawardani)

Dari : Trubus-Online.co.id

Tumbuh Lambat Harga Selangit


Suatu sore di salah satu stan Pameran Trubus Agro Expo 2007. Enam pot Pachypodium namaquanum tanpa daun terselip di antara sukulen lain. Hanya kulit batang kecokelatan berbalut duri yang terlihat dari pachypodium berukuran 5-8 cm itu. Di dekat pot angka Rp750-ribu tercetak jelas di atas secarik kertas. Sehari berselang 5 pot namaquanum itu berpindah tangan ke kolektor. Di tempat sama, 2 pot P. brevicaule seukuran jempol yang dibandrol Rp450-ribu laku terjual. Pertumbuhan lambat dan daya kecambah rendah mendongkrak harga keduanya.

Pantas namaquanum gundul berharga mahal itu menjadi buruan hobiis. Kita tak sekadar membeli tanaman, tapi membeli umur, kata Edi Sebayang, kolektor pachypodium, di Tangerang. Di kediaman Edi, wartawan Trubus Destika Cahyana dan Evy Syariefa melihat 2 pot namaquanum setinggi 8-10 cm menjadi klangenannya. Setiap hari Edi mengamati ujung batang menanti keluarnya daun yang bergelombang. Diduga namaquanum mini itu berumur 2 tahun. Bandingkan dengan geayi dan lamerei yang tingginya 20-25 cm pada umur setahun.

Tak hanya itu yang membuat namaquanum berharga tinggi. Daya kecambah biji rendah, paling hanya 25%, tutur Handry Chuhairy, pebisnis pachypodium di Tangerang. Artinya, dari 1.000 biji yang disemai hanya 250 berkecambah. Sementara P. brevicaule, dari 5.000 biji, tak satu pun berkecambah (baca: Yang Lahir di Atas Kapas, hal 28). Si bonggol kerdil itu pun pertumbuhannya sangat lambat, hanya 1-2 cm per tahun.

Dari penelusuran Trubus terdapat pachypodium lain yang masuk kategori medium. Artinya, tak sebongsor geayi dan lamerei, tapi tak selambat namaquanum dan brevicaule. Sebut saja ambongense, baronii, decaryi, dan succulentum. Mereka belum populer di kalangan hobiis karena penyebaran di alam terbatas. Pantas nurseri-nurseri di Amerika Serikat yang rajin membudidayakan madagascar palm itu tak punya banyak indukan. Andai pun biji didapat dari indukan, tingkat keberhasilan hanya 25%.

P. brevicaule

Gordon Rowley, pakar sukulen di Inggris, menggolongkan brevicaule sebagai pachypodium berbentuk cactiform. Artinya, bonggol melebar ke samping seperti kentang. Di kediaman Edi Sebayang, Trubus melihat 20 brevicaule 15-30 cm berjajar rapi di beranda samping. Menurutnya, bonggol selebar notes hingga buku tulis itu telah berumur 15-25 tahun. Di pasaran brevicaule seukuran itu bernilai Rp5-juta-Rp40-juta.

Saking lambatnya, Rusli Hadinata, kolektor di Tangerang, menyebut brevicaule sebagai si cebol. Lantaran itu Rusli memilih mengoleksi brevicaule yang disambung dengan P. lamerei. Yang disebut terakhir termasuk pachypodium bongsor. Penampilan brevicaule pun menjadi unik: batang bawah-lamerei-tegak berpadu bonggol di bagian atas yang melebar.

Menurut Aris Budiman, pemilik nurseri Watuputih di Yogyakarta, dengan penyambungan, pertumbuhan brevicaule dapat didongkrak hingga 3-4 kali lipat. Itu karena perakaran batang bawah-lamerei dan geayi lebih kuat. Saat berdiameter 20 cm, batang bawah itu tak lagi kentara, sehingga sosoknya seperti brevicaule orisinil.

P. namaquanum

Namaquanum tergolong pachypodium berbentuk cereiform alias berbatang tegak dan lurus. Julukan namaquanum diambil dari Namaqualand, sebuah wilayah di selatan Arizona. Di habitatnya di daerah aliran Sungai Orange, namaquanum ditemukan dalam jumlah terbatas. Ketinggian habitat aslinya di kisaran 300-1.200 m dpl dengan curah hujan 5-12 cm/tahun. Di sana namaquanum yang baru berkecambah tumbuh sebagai parasit. Itulah sebabnya pertumbuhan namaquanum di pot lambat karena tumbuh tanpa inang.

Di nurseri Watuputih, Yogyakarta, namaquanum setinggi 30 cm hanya bertambah 10 cm setelah dirawat 2 tahun. Rata-rata per tahun pertumbuhan 5 cm. Di pasaran namaquanum setinggi itu berharga Rp7,5-juta. Sedangkan, ukuran 8-10 cm, Rp750-ribu. Harga selangit karena pertumbuhan 3-4 kali lebih lambat ketimbang P. lamerei dan P. geayi.

P. ambongense

Disebut ambongense karena ditemukan di daerah aliran Sungai Ambongo. Ia tergolong pendatang baru karena baru diperkenalkan pada 1995 oleh Prof W Rauh. Di alam, sosoknya menyerupai P. baronii dan P. decaryi. Uniknya, semaian menyerupai P. lamerei. Yang membedakan hanya tangkai daun hijau kelabu pucat.

P. baronii

Sosok baronii sangat cantik, bagian bawah membesar, lalu mengecil ke atas, seperti botol. Sayang, ia jarang ditemui di alam. Habitat aslinya di Madagaskar bagian utara. P. baronii var baronii hidup di daerah bernama Ambogo-Boina. Sementara P. baronii var windsorii ditemukan 300 km dari Ambogo-Boina, tepatnya di Windsor Castle.

Keduanya hidup di dua lingkungan berbeda. Barnoii var baronii ditemukan di batuan beku asam, sementara baronii var windsorii di tanah batu gamping alkali. Karena itu yang disebut pertama cocok hidup di media yang agak asam, pH 6,5. Terutama bila ditambahkan batuan kerikil untuk menambah porositas alias kemampuan melewatkan air.

P. decaryi

Dalam kelompok pachypodium, decaryi tergolong paling aneh. Dari jauh sosoknya terlihat tak berduri. Gordon Rowley menyebut decaryi sebagai jembatan antara pachypodium dengan adenium. Itu karena sosok bunga dan batangnya mirip mawar gurun. Penampilan tanaman cantik, caudex bawah membulat seperti bawang bombai, lalu cabang panjang dan kurus.

P. succulentum

Succulentum tergolong pachypodium asal Afrika. Kekuatannya terletak pada akar yang membesar di media. Lantaran itu nurseri di Amerika kerap mengangkat akar agar terlihat. Di habitat asli cabang tumbuh 30 cm di atas permukaan tanah. Setelah dewasa ia disebut tanaman paling bandel yang mampu hidup di daerah panas. Di Indonesia, ia baru ditemukan di beberapa nurseri. Succulentum berukuran 22-25 cm dibandrol Rp750-ribu. (Destika Cahyana/Peliput: Dyah Pertiwi Kusumawardani, dan Argohartono Arie Raharjo).

Dari : Trubus-Online.co.id

Yang Lahir Diatas Kapas


Tiga sendok makan, nilainya Rp15-juta. Itulah 5.000 biji Pachypodium brevicaule yang harganya Rp3.000 per benih. Ketika Handry Chuhairy, pebisnis pachypodium di Tangerang, Provinsi Banten, menyemai semua biji itu, tak satu pun tumbuh maka kerugiannya Rp15-juta. Padahal, berkali-kali ia sukses membibitkan Pachypodium lamerei dan P. geayi.

Ukuran biji Pachypodium brevicaule memang amat mungil, lebih kecil daripada biji bayam. 'Kita bernapas saja, biji brevicaule terbang,' ujar Handry Chuhairy melukiskan betapa kecil dan ringannya biji itu. Bandingkan dengan ukuran biji P. lamerei yang setara gabah alias bulir padi. Oleh karena itu jumlah 5.000 biji cuma setara 3 sendok makan. Alumnus Fakultas Ekonomi Universitas Tarumanagara itu memperoleh benih brevicaule dari Jerman.

Sepekan setelah biji tiba di kediamannya di Serpong, Tangerang, pada awal Januari 2007, ia langsung menyemaikannya. Direktur pemasaran sebuah pasar swalayan itu memanfaatkan pasir malang sebagai media semai. Karena ukuran biji amat mungil, ia mengayak pasir malang dengan penyaring kopi. Tujuannya agar butiran pasir yang tak seberapa besar itu tidak menekan biji.

Pemilik Hans Garden itu kemudian menghamparkan pasir malang halus di atas nampan. Lalu biji brevicaule ditebar. Namun, 2-3 pekan berselang semua biji gagal berkecambah. Handry bukan satu-satunya pekebun yang gagal membibitkan biji pachypodium. Di Lembang, Kabupaten Bandung, berketinggian 1.000 m dpl, Erminus Temi Hernadi juga gagal membibitkan biji tanaman sukulen itu.

Pada 2007, pekebun kaktus itu menyemaikan 5.000 brevicaule secara bertahap. Ia juga menggunakan pasir malang sebagai media semai. Hasilnya sama saja, tak satu pun biji tumbuh. Dwiana Inawati hobiis di Tangerang, Banten, mempunyai pengalaman serupa. Perempuan 42 tahun itu menggunakan sekam bakar sebagai media semai, tapi tak satu biji pun berkecambah.

Hidup menumpang

Menurut Handry, di antara 26 spesies pachypodium di dunia, brevicaule dan namaquanum paling sulit dibibitkan. 'Kemungkinan biji dari daerah tertentu yang infertil,' ujar Handry. Inawati menduga, secara genetis brevicaule sulit berkecambah. Di habitat aslinya, spesies itu tumbuh di bebatuan dan iklim yang terik. Pertumbuhannya juga amat lambat: cuma 1 cm per tahun.

Oleh karena itu brevicaule jarang diperbanyak secara generatif dengan biji. Spesies itu umumnya diperbanyak secara vegetatif dengan grafting alias sambung. Dengan teknik sambung, tanaman yang pertumbuhannya menyamping itu 'menumpang hidup' pada spesies lain yang dimanfaatkan sebagai batang bawah. Yang lazim sebagai batang bawah antara lain lamerei dan geayi. Dengan teknologi grafting, kedua spesies-brevicaule di atas; lamerei, bawah-disatukan.

Terpilihnya lamerei dan geayi sebagai batang bawah karena ketersediaan memadai, harga relatif murah, adaptif terhadap perubahan iklim, dan perakaran amat kuat. Sementara namaquanum lebih sulit digrafting ketimbang brevicaule lantaran berbatang lunak. Wajar jika di pasaran amat jarang brevicaule dan namaquanum. Akibatnya, harga pun lebih mahal ketimbang spesies lainnya.

Contoh, brevicaule seukuran kuku, berumur 2 tahun, dan setinggi 2 cm mencapai Rp400.000. Bandingkan dengan lamerei berumur sama, tetapi tingginya 15 cm, harganya Rp125.000. Selain geayi dan densiflorum, lamerei memang mendapat predikat paling mudah dibibitkan.

Kapas basah

Untuk membibitkan lamerei dan geayi, Handry menggunakan sekam bakar sebagai media semai. Ia menambahkan kapur dolomit untuk meningkatkan keasamaan media. Media yang terlalu asam-kisaran pH 6-6,5-kondusif bagi pertumbuhan cendawan. Setelah media semai diratakan di atas tray, ia membuat lubang tanam dengan jari. Di setiap lubang tanam, ia meletakkan satu biji. Sarjana ekonomi itu kemudian menutup kembali lubang tanam.

Jika semua lubang tanam telah tertutup, Handry menyemprotkan larutan anticendawan dan vitamin B1 untuk merangsang perakaran. Konsentrasi keduanya sama: 1 ml per 1 liter air. Sepekan setelah semai, biasanya biji berkecambah. Namun, rata-rata perkecambahan pada pekan kedua. Handry menempatkan tray persemaian dalam sungkup plastik sejak hari pertama hingga siap dipotkan saat tanaman berumur 2 bulan terdiri atas 6-8 daun.

Sungkup dibuat di atas rak sepanjang 10 m dan lebar 1 m. Di atas rak besi setinggi 1 m itu, Handry membuat kerangka bambu membentuk setengah lingkaran. Plastik UV lantas dibentangkan menutupi kerangka bambu sehingga membentuk lorong, persis greenhouse mini berbentuk tunnel. Suhu di dalam sungkup amat panas, persis kondisi di habitat aslinya. Di kebun Hans Garden terdapat 5 sungkup yang berjajar dengan jarak 1 m.

Cara persemaian lain ditempuh oleh Dwiana Inawati. Ia memanfaatkan kapas yang dibasahi air hangat-tidak sampai menetes-sebagai media semai. 'Itu untuk menyesuaikan dengan kondisi asal pachypodium di gurun,' ujar sarjana Arsitektur itu. Kapas basah dibentangkan di dasar gelas plastik bekas agar-agar. Alumnus Universitas Katolik Atmajaya Yogyakarta itu menyemai biji berjarak 0,5 cm dan menutup gelas rapat-rapat. Selama penyemaian atau sepekan, biji tak disiram. 'Begitu keluar daun, langsung buka tutupnya,' ujarnya.

Menurut Hans dan Inawati, persentase perkecambahan lamerei dan geayi mencapai 90%. Dari persemaian kapas dan pasir malang, bibit pachypodium dipindahkan ke pot berdiameter 10 cm. Media tanam berupa sekam bakar, pasir malang, dan pupuk kandang dengan perbandingan 2 : 1 : 1. Handry membenamkan 2/3 tanaman agar lebih kokoh. Sebab, tergoyang sedikit saja mempengaruhi perakaran tanaman. (Sardi Duryatmo/Peliput: Kiki Rizkika)

Dari : Trubus-Online.co.id

Pachypodium Media Tepat Hasil Eksperimen


Bagi pemain tanaman hias akhir tahun 90-an, pachypodium bukanlah barang asing. Namun, buat Aris Budiman, pemain adenium kawakan, madagascar palm tree itu harus dipelajari lagi walaupun masih sama-sama tanaman gurun seperti kamboja jepang. Adeng-begitu ia disapa-butuh waktu 3 bulan untuk menemukan media yang tepat.

Pachypodium memang pernah tren pada 1997. Ketika itu Adeng masih sibuk membuat laporan keuangan di salah satu perusahaan elektronika di Yogyakarta. Waktu luang ia habiskan untuk mentraining tanaman bonsai kesayangan. Tak terbersit sedikit pun tentang pachypodium dalam pikiran pemilik nurseri Watu Putih itu. Wajar bila kini bungsu dari 5 bersaudara itu terpaksa belajar kembali untuk menumbuhkan kerabat adenium itu dalam media tepat.

Adeng mencoba berbagai media sejak September 2006. Berbekal pengetahuan tentang adenium, mantan kepala cabang perusahaan elektronika terkemuka itu awalnya menggunakan media nonpupuk: campuran 3 bagian sekam bakar dan 1 bagian pasir malang. Untuk nutrisi tanaman, diberikan pupuk setiap satu minggu. Pupuk terdiri dari vitamin B1, NPK seimbang 20:20:20, Dekamon, dan pupuk dengan unsur kalsium cair. Hasilnya, 60 pot lamerei, geayi, namaquanum, dan rosulatum berumur 1,5 bulan tumbuh sehat.

2 tahap

Meski pertumbuhan pachypodium bagus, tapi hati Adeng masih waswas dengan campuran media nonpupuk tersebut. 'Kalau pekerja lupa memberi pupuk, kan berabe. Kasihan tanamannya,' ujarnya. Akhirnya pada November 2006, mantan akuntan itu kembali bereksperimen dengan media. Kali ini penelitian terbagi dalam 2 tahap. Tahap pertama menggunakan media campuran sekam setengah matang, pasir malang, dan pupuk kandang. Pupuk kandang terdiri dari kotoran kambing dan sapi yang terfermentasi sempurna dengan perbandingan 1:1.

Tahap pertama terdiri dari 3 model media dengan campuran bahan yang sama, tapi komposisi berbeda. Media model pertama, sekam setengah matang, pasir malang, dan pupuk kandang dengan perbandingan 1:1:1; kedua, 2:2:1, dan ketiga, 2:1:1.

Setiap campuran media diterapkan pada lebih dari 100 pot geayi dan lamerei. Pachypodium diletakkan di bawah plastik UV dan disiram setiap hari. Selama satu minggu pertumbuhan anggota famili Apocynaceae itu terus diamati. Hasilnya, 2 model media pertama yang dipakai terlalu porous sehingga mudah kering. Media pun cepat memadat. Akibatnya, penampilan tanaman sukulen itu tidak segar, daun menguning karena kekurangan air. Media pada model ketiga sudah mulai gembur. 'Namun, over pupuk sehingga tanaman mudah busuk,' kata Adeng.

Tak puas dengan hasil percobaan pertama, penggemar bonsai itu pun melanjutkan penelitiannya. Tahap kedua menggunakan campuran media yang sama dengan tahap pertama, tapi komposisi sekam setengah matang dinaikkan. Perbandingan media menjadi 3:1:1, 4:1:1, dan 5:1:1.

Hasilnya, campuran media pertama dan kedua masih terlalu banyak pupuk organik sehingga pachypodium busuk setengah. Bahan organik mengandung N tinggi memacu pertumbuhan. Namun, dinding sel lunak sehingga tanaman mudah ditembus hama dan penyakit.

Media model ke-3 memberikan hasil paling maksimal. Pertumbuhan pachypodium baik dicirikan daun yang hijau dan segar. Risiko busuk pun sangat sedikit. 'Lebih dari 5.000 pachypodium yang menggunakan media terakhir (komposisi 5:1:1, red), hanya 10 tanaman yang busuk,' ujar pemilik nurseri Watu Putih itu.

7 tahun

Nun di Semarang, Jawa Tengah, di nurseri Gamacactus menggunakan media campuran pasir malang, sekam bakar, dan pupuk kandang dengan perbandingan 2:2:1/2. Plus kapur dolomit sebanyak 5% dari volume total media untuk menjaga pH agar tetap netral. Formula media yang aman bagi pachypodium itu tak langsung diperoleh begitu saja. Pemiliknya melakukan eksperimen selama 7 tahun sejak 1988-1995.

Awalnya dipakai media campuran pasir biasa yang kasar, sekam bakar, dan pupuk kandang dengan perbandingan 1:1:1. Semula pertumbuhan pachypodium bagus, tapi setelah 3-6 bulan berangsur busuk. Itu lantaran media mudah becek. Media lembap mengundang banyak penyakit. Lalu komposisi media diganti menjadi 2:1:1. Tanaman malah tumbuh bantet alias lambat.

Campuran media pun diubah kembali. Humus dipakai sebagai pengganti pupuk kandang dan sekam bakar diganti dengan sekam mentah. Komposisi pun bermacammacam. Namun, hasilnya tetap nihil. Pachypodium rosulatum yang dipakai sebagai eksperimen tak kunjung tumbuh optimal.

Kegagalan demi kegagalan dialami Gamacactus. Namun, pemiliknya tak patah arang sampai akhirnya titik terang muncul pada 1995. Ketika itu hadir pasir malang sebagai media tanam. Pasir malang membuat media porous dan mengandung mineral. Setelah lebih dari 7 kali percobaan, akhirnya Gamacactus menemukan media yang aman dipakai untuk pachypodium. Intinya, jangan memberikan pupuk kandang atau humus dengan volume lebih dari 20% dari total media. 'Musababnya membuat tanaman mudah busuk.

Kini, nurseri Gamacactus menggunakan campuran pasir malang, sekam bakar, dan pupuk kandang dengan perbandingan 2:2:1/2 ditambah 5% kapur dolomit. Hasilnya, pertumbuhan pachypodium prima. Daun hijau dan keluar terus, duri gendut, dan kaku.

Porous

Temi Hernadi di Lembang, Bandung, menggunakan media campuran pasir beton No.1, sekam bakar, dan pupuk kandang yang berasal dari kotoran ayam atau kuda. Perbandingannya 1:1:1. 'Pokoknya porositasnya mencapai 70-80%,' kata Temi. Maklum, pachypodium berasal dari daerah gersang, kering, dan berpasir sehingga butuh media yang tidak menahan air terlalu banyak.

Selain itu, media harus remah. 'Media padat menghambat pertumbuhan akar sehingga pendek,' ujar anak sulung pemilik nurseri Venita itu. Akibatnya tanaman tak berkembang, daun pucat, rontok, batang keriput atau gembos meski disiram terus menerus.

Memang tak mudah menemukan media yang tepat untuk pachypodium. Mereka harus dipelajari terlebih dahulu karakteristiknya. Itulah yang dilakukan Adeng triwulan pertama. (Rosy Nur Apriyanti/Peliput: Hermansyah dan Imam Wiguna)

Dari : Trubus-Online.co.id

Supaya Generasi Baru Lahir Sempurna


Musnah sudah harapan Frans Kusdianto Wiratmahusada menuai laba cepat dari pachypodium. Puluhan ribu biji Pachypodium lamerei dan geayi malas tumbuh. Sejak semai butuh waktu 6-7 bulan sampai siap jual. Setelah 5 kali gonta-ganti media, tanaman siap jual lebih cepat: cukup 3-4 bulan.

Dua tahun penuh Frans menggonta-ganti media semai sampai menemukan ramuan paling pas: sekam bakar dan pasir malang berkomposisi 3 : 1 plus 5% dolomit. Menurut Frans komposisi itu mendekati habitat asli pachypodium. Di alam sukulen itu hidup di daerah gersang berbatu, berpasir, dan cenderung berkapur.

Frans yakin, sekam mampu menyerap asam berlebih, tak mudah lapuk, dan kadar organik rendah. Sementara porositas pasir malang cukup tinggi sehingga mencegah air tergenang. Pasir malang juga mengandung mineral yang berfaedah menguatkan dinding sel sehingga resisten serangan hama dan penyakit. Ketiga bahan itu diaduk rata dan ditaruh di atas tray plastik berlubang di bawahnya. Biji dipendam sedalam 0,5 cm. Setelah 2-3 bulan baru mulai disiram. Hasilnya 70% biji bersemai prima.

Komposisi media itu juga digunakan oleh para pekebun lain seperti Aris Budiman di Yogyakarta, Soeroso Soemopawiro di Jakarta, dan Temi Hernadi di Bandung. Lanny Lingga, pekebun di Bogor, Jawa Barat, memanfaatkan arang sekam, peatmoss, dan perlit. Lapisan arang sekam di permukaan atas; bawah, campuran peatmoss dan perlit yang berkelembapan tinggi. Dengan kelembapan tinggi, ia hanya menyiram sekali sepekan. Alumnus University of New South Wales itu membuat 2 lapisan agar tingkat kelembapan terkontrol. Campuran peatmoss dan perlit cenderung berkelembapan tinggi.

Lanny menyemai biji pachypodium dalam kompot styrofoam ukuran 40 cm x 50 cm. Populasinya 200 biji. Sebelum penyemaian Lanny merendam biji dalam air hangat suam kuku sekitar 40oC ditambah 10 cc zat perangsang tumbuh, selama 1 jam. Setiap 20 menit ia mengganti air agar tetap hangat. Kemudian biji direndam lagi dalam air bersih selama 1 jam. Dalam air bersih, perempuan 38 tahun itu menambahkan setetes giberelin per 200 ml. Setelah itu biji disebar dalam kompot. Dengan cara itu, tingkat perkecambahan biji mencapai 80%.

Lebih cepat

Persentase perkecambahan juga dipengaruhi faktor genetis. Jenis tertentu seperti brevicaule, misalnya, sohor sebagai biji yang sulit berkecambah. Persentasenya cuma 5%. Jenis densiflorum, horumbense, dan mikea mencapai 40%; soundersii dan geayi, 60%. Secara genetis persentase perkecambahan tertinggi terdapat pada jenis lamerei, sekitar 70-90%.

Hal lain yang mempengaruhi adalah lama penyimpanan biji. Semakin lama disimpan makin lama pertumbuhan. Sebab biji perlu penyesuaian untuk menghilangkan masa dorman. Pekebun lazim menggunakan giberelin untuk mempercepat hilangnya masa dorman. 'Paling lama benih disimpan 2 bulan untuk mendapatkan hasil maksimal,' kata Frans.

Pengemasan yang kurang baik juga mempengaruhi tingkat keberhasilan pertumbuhan. Plastik pembungkus sebaiknya divacum dan diberi pengering. Selama masa pengiriman seharusnya ada dalam refrigerator.

Menurut Lani, di daerah bersuhu tinggi seperti Semarang pertumbuhan pachypodium relatif cepat. Namun, pertumbuhan duri lambat dan bonggolnya tidak sebesar di daerah bersuhu dingin. Biasanya 6 hari pascasemai lahir daun. Namun, daun sejati baru muncul 4 hari kemudian. Dua bulan berikutnya pachypodium dapat dipindah dalam polibag dengan mengikutsertakan media semai ditambah sekam bakar.

Tanaman berduri itu bisa juga diperbanyak dengan setek. Sayangnya setek cenderung membuat bonggol tidak keluar, risiko kegagalan lebih besar, sulit keluar akar, bentuk tajuk kurang bagus, dan hasil perbanyakannya lebih sedikit. Jenis kristata biasa dilakukan grafting (sambung pucuk) karena merupakan jenis yang langka dan lambat pertumbuhannya. Penyambungan dilakukan dengan batang bawah jenis lamerei karena lebih mudah tumbuh. Tingkat kegagalan grafting relatif rendah. (Dyah Pertiwi Kusumawardani).

Dari : Trubus-online.co.id

Pachypodium Mulai Mengintai


Seribu bibit tanaman setinggi 1-4 cm berbaris rapi di atas rak berukuran 5 m x 1 m dengan tinggi 80 cm. Adenium duri yang berada di rak kelima sebelah kanan pintu masuk greenhouse itu terlihat asri dengan daun ramping berwarna hijau. Itulah Pachypodium lamerei milik Pami Hernadi di Lembang, Bandung, yang disemai sejak 4 bulan silam.

Pachypodium memang mulai mengintai hobiis tanaman hias. Tak hanya di Jawa Barat, tapi juga Jawa Tengah, dan Jawa Timur. Terbukti beberapa pekebun secara diam-diam sudah mulai menyemai biji anggota famili Apocynaceae itu. Sebut saja Fransiskus Wiratmahusada di Semarang. Pemilik Gamacactus Nursery itu menyemai biji Pachypodium geayi dalam 4 wadah plastik berukuran 30 cm x 40 cm. Masing-masing wadah diisi 200-300 biji. Mereka tersembunyi di antara aglaonema yang terletak di belakang rumah.

Nun di Yogyakarta, Aris Budiman memiliki lebih dari 3.000 bibit P. geayi berumur 2-12 minggu. Mereka diletakkan di atas rak bambu setinggi 50 cm dalam rumah plastik di pojok kiri kebun. Di Tangerang, ada Handry Chuhairy yang telah mengoleksi P. rosulatum sejak pertengahan 2006. Menurut Adeng-sapaan Aris Budiman-pachypodium dilirik lantaran berbonggol dan sifat tanaman mirip adenium. Bandel dan mudah dirawat, ujar Frans-sapaan Fransiskus.

Dengan begitu, pachypodium mudah masuk di hati hobiis adenium yang tergila-gila dengan bonggol unik. Itu yang tengah terjadi di Jawa. Daya tarik lain terdapat pada bunga. Pachypodium memiliki warna bunga yang jarang ditemui di mawar gurun, yaitu kuning. Dengan demikian dapat dikatakan kalau pachypodium generasi adenium berikutnya.

Mahal

Hingga kini, biji masih didatangkan dari luar negeri. Menurut Pami, biji pachypodium di negara asal, Madagaskar, dipanen hanya pada bulan tertentu, Desember-Februari, sehingga ketersediaannya terbatas. Selain itu, daya kecambah biji sangat rendah, cuma 70%. Bahkan ada yang hanya 30%, yaitu jenis P. brevicaule. Dari 1.000 biji yang disemai hanya 300 yang berhasil tumbuh.

Dibandingkan mawar gurun, pertumbuhan pachypodium lebih lambat. Untuk memperoleh rosulatum setinggi 5-7 cm dibutuhkan waktu 8 bulan dari tebar biji. Sedangkan adenium hanya 1-1,5 bulan untuk mencapai tinggi yang sama. Dengan keterbatasan itu wajar bila harga pachypodium lebih mahal.

Lamerei berumur 3-4 bulan dengan tinggi batang 4 cm seharga Rp30.000-35.000/pot. Bandingkan dengan adenium obesum dengan umur yang sama harganya hanya Rp5.000/pot. P. geayi berumur 3 bulan dengan tinggi 17-18 cm dijual seharga Rp60.000-75.000/pot. P. rosulatum lebih mahal lagi. Bibit umur 8 bulan dari semai biji yang tingginya 5-7 cm seharga Rp200.000/pot. Adenium obesum berumur sama hanya seharga Rp10.000-15.000/pot.

Jenis

Di antara lebih dari 20 jenis pachypodium, P. lamerei, P. geayi, dan P. rosulatum paling banyak dibudidayakan di tanahair lantaran biji mudah didapat. Dua jenis yang disebut pertama itu tumbuh pada habitat yang sama. Mereka tahan terhadap panas, udara kering, dan butuh sinar matahari penuh. Pertumbuhan tanaman tegak dan cepat. Di Singapura, lamerei umur 14 bulan mencapai tinggi 50 cm. Menurut Adeng, lamerei dan geayi termasuk kategori giant lantaran tinggi tanaman bisa mencapai 20 m.

Lamerei dan geayi berbunga setelah berumur 2 tahun atau ketika keluar cabang pertama. Bunga lamerei berwarna putih dan tengahnya kuning; geayi, putih. Daun hanya menutupi batang paling atas. Bentuknya panjang dan ramping. Di antara semua genus, daun geayi paling panjang, bisa mencapai 40 cm bahkan lebih, tapi lebar hanya 2 cm.

Rosulatum termasuk dalam kategori dwarf. Tinggi tanaman maksimal 1 m. Pertumbuhan anggota famili Apocynaceae itu melebar. Sosok tanaman sukulen itu seperti arabicum, diameter bonggol bisa mencapai 2 m. Bentuk daun lebih oval dan pendek dibandingkan tipe giant. Dalam satu titik terdapat 1-2 duri pendek dan gemuk. Rosulatum dapat berbunga pada umur 1 tahun. Bunga berwarna kuning.

Jenis lain yang tak kalah cantik ada di tangan kolektor dengan jumlah terbatas dan harganya mahal karena pertumbuhannya lama. Sebut saja bispinosum dan brevicaule. Yang disebut pertama merupakan spesies asal Afrika. Sosok tanaman pendek seperti bonsai dan berbonggol.

Brevicaule adalah spesies asli Madagaskar yang pertumbuhannya paling lambat. Ia tidak tumbuh ke atas, tapi ke samping. Dalam 4 tahun, lebar salah satu anggota famili Apocynaceae itu hanya bertambah 2 ruas jari. Itu yang Trubus lihat di kebun Pami. Pachypodium berumur 20 tahun itu hanya setinggi 10 cm dan lebar 21 cm. Batang pendek itu sensitif terhadap dingin, sehingga lingkungan sekitar harus dijaga tetap hangat.

Meski pertumbuhannya lambat, tapi penampilan pachypodium memikat. Batang berbonggol dan warna bunga menarik, kuning dan putih. Pantas bila anggota famili Apocynaceae itu mulai dilirik. (Rosy Nur Apriyanti/Peliput: Dian Adijaya, Destika Cahyana, dan Syah Angkasa)
Dari : Trubus-online.co.id

Harga Pachypodium


Ukuran : Tinggi sekitar 50 cm
Harga Rp 50.000,- per pohon belum termasuk ongkos kirim

PURING APEL YANG LOKAL DAN IMPORT SAMA CANTIKNYA



October 12, 2009

Dengan segala keunikannya, tanaman Puring kini sudah mulai merangkak kembali dan pantas dijadikan idola. Tak terkecuali Puring Apel, bentuk daun yang menyerupai buah apel ini memiliki bentuk eksotis dipadu dengan variasi warna yang serasi hingga mampu menyihir penggemarnya. Ada 2 Puring Apel yang saat ini tersedia di pasaran tanaman hias, yaitu lokal dan Thailand. Meski namanya sama, tapi tampilannya berbeda.

“Sebenarnya, puring Apel lokal tidak kalah dengan ke-eksotikan puring apel Thailand. Pada prinsipnya puring Apel dari Thailand memiliki kemenangan pertama pada kata “Import”,” ungkap Subur Prasetyo, 31, pedagang bunga dari Kota Blitar, Jawa Timur. Dan sudah menjadi sebuah tradisi, segala sesuatu yang import akan dikatakan lebih bagus. Kenyataannya sebagian besar memang begitu, termasuk juga yang menyangkut tanaman.
Lebih lanjut pria tambun ini menjelaskan bahwa pada sisi warna kedua Puring ini memiliki perbedaan. Puring Apel lokal warnanya cerah, sedangkan Puring Apel Thailand warnanya mengkilat. Bila terkena sinar matahari, maka warna dari puring Thailand ini akan muncul lebih sempurna.
Selain pada warna, daun dari masing-masing varian beda Negara ini juga memiliki perbedaan. Puring Apel Thailand memiliki jenis daun yang tebal, sedangkan puring apel lokal daunnya lebih tipis. Sekilas memang nampak sama, tapi ketika diraba akan terasa perbedaannya.
Dengan perbedaan ketebalan yang mendasar itu, daun pada puring juga memiliki karakteristik yang berbeda pula. Puring Apel lokal daunnya kasar. Sedangkan puring apel Thailand bila diraba daunnya seperti plastik, halus dan agak licin. “Makanya warna Puring ini nampak mengkilap,” ungkapnya.
Mengenai harga, jelas memiliki perbedaan. “Perbandingan yang mencolok apabila kita berbicara soal harga. Karena puring import juga membutuhkan biaya pada sisi transportasi sedangkan lokal begitu mudahnya di dapat. Untuk perbandingan harga yang ada 1:10,” jelasnya.
Bila di pasaran lokal, Puring Apel lokal seharga Rp 15.000 – Rp 20.000, sementara Puring Apel Thailand minimal seharga Rp 100 ribu. Dari perbedaan yang ada tersebut, juga mempengaruhi penjualan. Terutama pada varian warna. “Untuk kedua jenis Puring itu, varian warna yang sering di buru kolektor adalah kolaborasi warna merah,” ungkapnya.
Sedangkan puring apel lokal selain kolaborasi warna merah, di pasaran yang menunjukkan geliatnya adalah Puring Apel warna kuning telur. Kecenderungan tren tanaman Puring Apel baik lokal maupun import masih banyak digilai para kolektor. Tapi bagi kolektor tanaman yang memiliki citarasa seni, dedaunan puring ini bisa menjadi alternatif. Harganya juga masih relatif terjangkau dibanding jenis tanaman koleksi lain tapi keindahan daun puring juga tak kalah bila dipajang maupun dipamerkan. ton

Dari : duniapot.com

Puring Roro Wilis Jadi Primadona


Kontes Puring kali pertama yang digelar Plaza Araya mendapat tanggapan baik khususnya dari kalangan kolektor Malang. Terbukti, tanaman Puring yang dibawa sebagian bahkan belum pernah diperlihatkan pada publik. Deretan Puring ini dipamerkan di atas panggung di halaman depan Plaza Araya. Selama penjurian kemarin, pengunjung plaza selalu berhenti untuk sekadar mengamati jenis Puring yang susunan daunnya tampak proporsional.

Penyelenggara Kontes Puring, Nanang Mukholis Anwar mengatakan, sebelumnya juga digelar kontes serupa di Tumpang. Namun peserta kontes di Plaza Araya, bukanlah orang yang sama dengan kontes serupa tersebut. “Banyak peserta baru yang memang kolektor. Sebelumnya mereka bahkan tidak keluar untuk melakukan pameran,” kata Nanang yang ditemui Malang Post disela penjurian.

Total peserta, lanjutnya, memang tidak sebanyak yang diprediksikan sebelumnya. Menurutnya, banyak peserta yang menarik diri dari kontes sehingga menyisakan 25 peserta. “Namun dari jumlah ini, 80 persen mengikutikan Puring jenis impor yang cukup langka. Jadi bukan sekadar Puring yang kerap menghias kuburan dan Puring ini juga tidak mudah ditemukan di pasaran,” katanya.

Nama Puringnya yang mengikuti kontes kecantikan tanaman tersebut cukup unik. Di antaranya Green Apple, Santa Helena, Oscar Ruby, Oscar Madu, Banglor, Tanduk, Sahara, Sakura, Lipstik dan masih banyak lagi. Meski Puring berkualitas kebanyakan merupakan Puring jenis impor, namun bukan berarti Puring lokal kalah pamor. Misalnya saja Puring Roro Wilis yang juga menjadi primadona di kalangan penggemar Puring karena kelangkaannya.

GM Plaza Araya, Priali M Basa yang juga menjadi juri dalam Kontes Puring tersebut mengatakan, harga Puring yang dipamerkan tidak menjadi pertimbangan utama. Pasalnya, kegiatan hobi seperti ini tidak memiliki batasan harga. “Namanya juga hobi, berapapun akan dibeli. Puring Lidah Api terakhir dijual dengan harga Rp 15 juta dan tetap ada pembelinya,” terang dia.

Demam Puring yang sudah berlangsung delapan bulan tersebut hingga kini masih diminati pecinta tanaman. Pasalnya, Puring merupakan tanaman yang akrab dengan keseharian karena biasa ditemukan di taman, dan juga pernah populer sebagai tanaman kuburan. Hanya saja, untuk jenis yang berharga tinggi tentunya merupakan Puring yang langka.

Nanang sendiri memprediksi, booming Puring akan cukup lama bertahan. Pasalnya, berbeda dengan Anthurium, perbanyakan tanaman Puring terbilang lebih sulit meski perawatannya paling mudah di antara tanaman hias lainnya. Dibiarkan pun, tanaman ini tetap tumbuh dengan kondisi luar ruangan. “Justru jika terlalu dimanja, tanaman ini akan mati,” pungkasnya. (fio/lim) (Fiona Mediony/malangpost)

Dari : malangraya.web.id

Keindahan Walet Merah Kristata


May 10, 2009

Dunia tanaman hias memang aneh, dimana bila memiliki kelainan justru meningkatkan nilai jualnya. Kristata merupakan salah satu kelainan yang dimiliki oleh tanaman, hampir semua jenis tanaman hias dari ribuan jumlahnya kemungkinan salah satunya memiliki kelainan baik daunnya atau yang sering disebut variegata ataupun kelainan bentuk yang ngetrend disebut kristata.
Bagi kolektor tanaman hias, variegata ataupun kristata selalu menjadi bahan buruan, tak peduli dimanapun tempatnya, bila hati sudah berhasrat kemanapun pasti dikejar juga. Karena jumlahnya tidak banyak secara otomatis harga jualnya cukup mahal. Betapa beruntungnya Anda jika memiliki tanaman hias berkarakter unik (kristata,red).
Puring kristata, rasanya masih asing terdengar di telinga, bahkan baru kali ini Go Green menemuinya. Inilah sebuah bukti bahwasannya tanaman kristata dimiliki oleh hampir semua jenis tanaman hias. Tapi jangan bilang jumlahnya banyak, pasalnya dari seribu tanaman, mungkin hanya satu yang memiliki karakter tersebut.
Dari keunikan dan minimnya jumlah, pada akhirnya memposisikan kristata menjadi tanaman eksklusif. Bila sudah demikian tak ada bedanya mau puring lokal ataupun import, harganya sama tingginya. Walet merah kristata milik Amin Thohari, meski termasuk puring lokal, namun harganya dapat terangkat berkat kelainannya.
Walet merah kristata tanpa sengaja didapatkan oleh Thohari beberapa bulan yang lalu. Saat ini puring kristata tersebut menjadi kebanggaannya. Sebagai pelaku bisnis tanaman hias, tak jarang ia mengikuti bursa. Sebagai salah satu andalannya walet merah kristata selalu dibawa saat mengikuti bursa tanaman hias.
Awalnya tak kelihatan puring tersebut memiliki kelainan, karena kristata pada batangnya tertutup oleh rimbun daun puring. Tapi setelah didekati dan diperhatikan ujung batang membentuk sebuah kipas yang merupakan ciri tanaman kristata. Meski tak bisa dibilang spektakuler, tapi tetap saja puring tersebut memiliki daya magnet luar biasa.
Usia Walet merah kristata termasuk masih muda, hal ini dapat dilihat dari besar batang bawah tanaman. Diameter batang bawah tak lebih dari 5 cm, tinggi tanaman kurang lebih hanya sekitar 80-90 cm. Untuk mengetahui bahwa puring tersebut kristata, anda harus memperhatikan dari dekat, seperti dikatakan diatas, bila dilihat dari jauh kristata tak tampak akibat rimbunnya daun puring.
Sebenarnya membelahnya batang tanaman hampir dimulai dari pangkalnya, namun terlihat membuka pada bagian atas batang. Batang tanaman membelah menjadi dua dan pada batang membelah tersebut ditumbuhi batang baru yang membentuk seperti kipas dengan kulit batang warna hijau.
Dinamakan walet merah karena daun puring tersebut lebih didominasi oleh warna merah darah, semakin serasi karena berkombinasi dengan warna hitam, hijau dan kuning. Struktur daun puring kecil dan memanjang, mirip sebuah pita rambut. Meski termasuk puring lokal, keindahannya cukup memuaskan mata, apalagi didukung dengan kelainan yang dimilikinya. Makin menambah kesempurnaan puring lokal tersebut.her

Dari : duniapot.com

Puring India dan Puring Lokal


Sejarah Puring

Puring pertama kali diidentifikasi di wilayah laut Seram, Maluku, pada 1600 dengan nama codiaeum mollucanum. Di Eropa, puring mulai dikenal pada 1804 ketika perahu East Indies berlabuh di London, Inggris. Kecantikan puring membuat kaum bangsawan Inggris menggandrunginya. Lantaran tanaman ini masih langka dan hanya dimiliki kaum bangsawan, maka dinamakan King of Plant.

Bak lukisan, tanaman puring memiliki warna-warni yang indah, cerah dan cantik. Tanaman dengan nama latin Codiaeum -- sebuah nama yang diberikan oleh seorang botaniawan asal belanda GE Rumphius pada 1660 -- ini merupakan tanaman asli tropis. Namun dalam perkembangannya, tanaman ini lebih banyak dikembangkan di daratan Eropa, Amerika Serikat, dan Jepang. Sedangkan di kampung halamannya, yakni Indonesia, Filipina, Thailand, Malaysia, Srilangka dan India, tanaman ini masih dianggap tanaman liar.

Setelah berjaya di Eropa dan Amerika pada abad 18, terutama setelah kelahiran puring varietas-varietas baru hasil persilangan, mulailah kaum petani tanaman hias Asia melakukan pembudidayaan. Tidak jelas sejak tahun berapa, namun dalam perkembangannya kini banyak bermunculan varietas baru yang cantik dan unik, seperti puring apel merah dan kura-kura asal Thailand, dust ruby asal Filipina, puring tokek asal Malaysia, dan puring oscar, puring concord brazil asal Indonesia.

Asal-usul puring dan habitatnya
Puring dikenal dengan nama ilmiah Codiaeum alias Crozophyla, Junghuhnia, Phyllaurea, dan Synaspisma. Oleh para pakarnya, ia diklasifikasikan seagai berikut.

Kingdom : Plantae
Divisi : Magnoliophyta
Kelas : Magnoliophyta
Ordo : Malpighiales
Famili : Euphorbiaceae
Subfamili : Crotonoideae
Rumpun : Codiaeae
Genus : Codiaeum A.Juss
Spesies : Codiaeum affine
Codiaeum hirsutum
Codiaeum megalanthum
Codiaeum tenerifolium
Codiaeum veriegatum

Puring India

Setelah puring Thailand, kini giliran puring dari negerinya Sharukh Khan, India, berjaya. Spesialis puring berdaun lebar dan tebal dengan warna-warni yang cerah ini banyak diburu kolektor. Harganya pun jutaan rupiah.

Heri Saepudin, pemilik Gonku Landscape and Stock Plant di Sawangan Depok, Jawa Barat, mengatakan, saat ini puring yang tengah menjadi leader dan banyak diburu para kolektor adalah puring asal India atau lebih dikenal puring tipe flat, berdaun lebar dan tebal dengan warna terang dan cerah. Salah satunya puring fantastic alias temu ireng atau dikenal puring banglor. Puring banglor memiliki daun yang lebar, tebal dan memanjang, dengan struktur tulang yang besar dan kokoh. Keunikan lain, warnanya yang cerah, merah tua dengan garis tengah berwarna merah muda. Untuk daun yang masih muda berwarna hijau tua dengan garis tengah berwarna kuning. Jika telah tua, warnanya akan semakin menyala dan cantik.

“Bentuknya unik, warnanya dan juga masih langka, belum banyak yang membudidayakan membuat puring banglor ini mahal, dan disenangi para kolektor,” ungkap Heri.

Hal senada juga dikatakan Amdanih yang juga pembudidaya puring di Sawangan. Menurut Amdanih, banglor dengan daunnya lebar membuat tanaman ini menjadi buruan kolektor. Selain itu, puring ini juga memiliki warna yang cantik. Maka tak heran jika harganya bisa mencapai jutaan rupiah. Untuk ukuran kecil – yang tinggi batangnya 4-5 cm, belum termasuk daunnya -- para kolektor harus merogoh koceknya hingga Rp600 ribu per pot.

Puring asal India lainnya yang kini digandrungi adalah varietas yellow queen. Puring jenis ini terdiri dari dua batang besar dengan warna daun dominan hijau dihiasi kuning keemasan di tengah daun. Selain itu ada juga puring patricia, yaitu puring berdaun kuning dan hijau dengan struktur tulang yang tebal sehingga guratannya terlihat. Seperti banglor, jenis ini juga memiliki daun yang lebar-lebar.

Kemudian ada puring legacy, berwarna merah tua dengan struktur daun yang kokoh, dan puring Indiana yang juga merupakan puring koleksi. Jenis ini terlihat elegan dan fantastik dengan daun yang kurus memanjang berwarna merah tua dengan sedikit titik pada daunnya.

Puring Lokal Naik daun
Selain puring-puring India, kata Amdanih, ada beberapa jenis puring lokal yang masih mendapat tempat di hati masyarakat. Salah satunya puring oscar dan concord brazil. Harga yang ditawarkan untuk puring lokal ini tidak setinggi puring – puring asal India. Harganya berada dalam kisaran Rp100 ribu hingga Rp300 ribu per pohon ukuran kecil.

Puring oscar terdiri dari tiga jenis, yakni: oscar madu, oscar batik, dan oscar sukabumi. Bapak dua anak ini mengatakan, puring oscar memiliki permukaan daun yang melebar dan menggelembung di tengah dengan ujung daun yang lancip. Puring ini memiliki warna kuning kemerahan dan hijau. Khusus oscar batik, pada daunnya terdapat bintik-bintik, mirip batik. Dari ketiga jenis oscar ini, yang paling banyak diminati kolektor dan konsumen adalah oscar batik.

Dibanding tanaman lainnya pembudidayaan puring oscar membutuhkan waktu relatif lebih lama. Sama dengan puring kura-kura asal Thailand yang memakan waktu 1,5 - 2 bulan hingga tumbuh akarnya dan siap tanam.

“Oscar memang lambat budidayanya, baik distek maupun dicangkok. Mungkin karena sulit dan lambat itulah yang membuat jenis ini langka dan banyak dicari,” ucap Amdanih.

Jenis lokal lainnya yang juga naik daun adalah jenis concord brazil. Jenis ini memiliki 3 varian, yakni concord merah, concord kuning dan concord brazil. Dinamakan concord brazil karena warna daunnya menyerupai seragam tim sepakbola Brazil, merah dan kuning.
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...